Archive for Juli 2008
Sejati.
The Indonesians were, in a sense, Africa’s Vikings. They brought with them important new plants, new forms of music, new diseases, new technologies, new arts, new ways of predicting events, and other lasting facets of culture.
Phantom Voyagers adalah buku baru bapakku, yang dari situ beliau minta kubukakan situsnya dan akhirnya aku ikut baca dan tahu.
Bahwa sebenarnya bangsa kita-lah sanggup lebih dulu sampai di Afrika sebelum orang-orang Eropa dan Arab, adalah satu lagi pembuktian firasatku bahwa bangsa Indonesia, sejatinya, adalah orang-orang yang luar biasa kuat, para petualang dan penjelajah sejati.
Bisa kau bayangkan sendiri bangsa macam apa yang orang-orangnya sanggup berkelana entah berapa tahun lamanya, membelah separuh belahan bumi di atas perahu purba mereka, untuk kemudian menetap di sebuah tanah asing yang tak terkira jauhnya dari pertiwi mereka.
Dan ini bukan fiksi. Ini Indonesia. Bangsa kita sendiri.
Tidak tergetarkah hatimu?
Syarat.
Jika engkau ingin aku datang dan memilihmu dalam pemilihan umum, lakukan yang seperti ini:
Muncullah di TV dan katakanlah,
“Kami tidak akan berkampanye di jalanan dengan segala keributan dan kekacauannya karena kami sadar bahwa jalan-jalan itu adalah milik semua kalangan, bukan milik partai, kandidat maupun pendukung kami.
Kami tidak akan turun membagi-bagikan kaos, rokok, VCD maupun atribut-atribut yang lain karena atribut-atribut itu hanya akan membeda-bedakan kami dengan saudara-saudara yang lain yang sekedar berbeda pilihan. Dan karena atribut-atribut itu 90% menjadi sampah dan 10% lainnya hanya menunggu waktu untuk juga menjadi sampah.
Kami tidak akan mengumpulkan massa di lapangan, membuat panggung besar dan memanggil artis-artis dan musisi untuk membuat suasana hingar-bingar yang dipenuhi euforia sesaat. Jujur saja, bagi kami semua itu terlalu tidak masuk akal dan tidak ada kaitannya dengan pemilihan umum sama sekali. Lebih baik kita duduk dan berpikir tentang solusi berbagai masalah bangsa ini daripada kami susah payah membuat Anda semua senang dengan goyangan pinggul atau deretan artis yang sekedar cengar-cengir dan kadang-kadang tepuk tangan tidak jelas.
Kami tidak akan menempel stiker-stiker, memasang spanduk, memajang baliho, hanya untuk sekedar memasang foto dan janji-janji kampanye kami. Kami sadar sepenuhnya bahwa lingkungan sekitar Anda terlalu indah untuk dikotori oleh kepentingan sesaat dan janji-janji kami.
Malah, kami tidak akan berjanji apapun pada Anda.
Negara ini sudah terlalu larut dalam beragam permasalahan, kami tidak akan membawa janji-janji yang baru untuk sesaat menutupi penderitaan yang kita semua alami. Kami datang hanya untuk semampu kami, perlahan-lahan, satu persatu, membereskan masalah-masalah lama yang masih ada.
Jika Anda memilih kami, mohon selamatkan kami dan dukung kami dalam menjalankan amanah Anda sendiri.
Jika Anda tidak memilih kami, terima kasih. Sesungguhnya Anda telah menyelamatkan kami dari musibah yang luar biasa besarnya, yang hampir pasti tidak akan dapat kami tanggung seumur hidup kami.”
Aku pasti akan memilihmu. Dan barangkali hanya aku. Tetapi tetap engkaulah pemimpinku sekalipun engkau kalah suara, sekalipun engkau tak mendapat posisi apapun.
Bahkan, sekalipun engkau hanya bagian dari imajinasiku diri, engkau tetaplah pemimpinku.
Arena.
It is not the critic who counts; not the man who points out how the strong man stumbles, or where the doer of deeds could have done them better. The credit belongs to the man who is actually in the arena, whose face is marred by dust and sweat and blood; who strives valiantly; who errs, who comes short again and again, because there is no effort without error and shortcoming; but who does actually strive to do the deeds; who knows great enthusiasms, the great devotions; who spends himself in a worthy cause; who at the best knows in the end the triumph of high achievement, and who at the worst, if he fails, at least fails while daring greatly, so that his place shall never be with those cold and timid souls who neither know victory nor defeat.
Nafas.
Di acara Oprah kapan hari, Dr. Oz memberi 3 cara mudah untuk menenangkan diri:
- Mengambil nafas dalam-dalam dan perlahan.
- Menggumamkan “omm….” sambil tetap menutup mulut.
- Menggigit tutup sampanye. Atau apapun yang memaksa otot rahang untuk terbuka.
Semua cara di atas punya penjelasan ilmiahnya sendiri mengapa ia berguna: tapi bukan itu yang penting. Dari ketiga cara tadi, aku memilih yang pertama. Nafas. Sejak kecil, aku selalu merasa tertarik dengan aktivitas satu ini. Seringkali aku terhenyak, menyadari aliran udara memasuki rongga hidungku, dan berpikir, “wow, sudah berapa lama aku bernafas seperti ini?”
Bagiku, sangat menakjubkan bagaimana kita sama sekali tak pernah sekalipun lupa untuk bernafas.
Kalau mau berandai-andai, bukankah sebenarnya kita ini makhluk yang aneh? Kita tidak bisa hidup kecuali jika terus menerus menghisap dan menghembus, mengumpulkan substansi yang tak kasat mata di dalam tubuh kita barang sejenak, lalu dibuang lagi. Demikian seterusnya, seumur hidup. Sekitar dua puluh kali per menit, atau sekali nafas tiap tiga detik.
Bagiku nafas adalah tanda betapa ringkihnya kita manusia. Tiap tarikan nafas adalah upayaku mempertahankan eksistensi. Bahwa ia adalah pertahanan diri yang paling mendasar, paling purba. Tiap dadaku mengembang, aku mengakui bahwa aku masih ingin tetap di sini, betapapun aku sesekali berhasrat untuk pergi lebih cepat lagi.
Dan dari Dr. Oz kuketahui bahwa dengan nafas itu juga kita menenangkan diri. Dengan bernafas dalam-dalam, engkau tidak sekedar bertahan hidup: nafas itu pun menenangkanmu hingga kau dapat menentukan langkah apa yang akan kauambil berikutnya. Langkah yang, bisa jadi tidak sekedar memperpanjang usiamu, namun juga memperbaiki hidupmu selanjutnya.
Bukankah semua itu jauh lebih kompleks dari yang kau bayangkan? Nafas bukan sekedar perihal biologi, perihal kimia, namun juga psikologi. Apa lagi selanjutnya?
Nafas selalu mencengangkanku karena sebagai sesuatu yang sedemikian menentukan eksistensi kita, ia hampir selalu kita abaikan.
Enrai.
Gemuruh petir di kejauhan adalah pertanda. Perihal apa, hanya engkau sendiri yang menentukan maknanya. Yang pasti, dia adalah pertanda.
Terkadang, gemuruh petir itulah yang dibutuhkan untuk membangunkanmu dari lamunan-lamunan. Atau dari otomatisasi hidupmu sehari-hari. Gemuruh petir adalah pengingat mengenai perubahan-perubahan yang akan datang, mengenai mendung yang bisa jadi terabaikan olehmu yang terus menunduk menjalani kesibukanmu sehari-hari.
Mungkin engkau pun membencinya, suara yang menghentakkan jantung itu. Itu pula yang sering kurasakan. Sebagai seseorang yang sering membenci kebusukan yang mengakar, stagnansi kebodohan, harus kuakui bahwa aku tak jarang mencintai status quo. Bahwa aku pun menikmati kenyamanan sehari-hari, menderita dan tersiksa oleh perubahan-perubahan.
Namun gemuruh petir tidak dapat ditawar lagi. Saat kau mendengarnya, tak lama lagi perubahan itu akan datang padamu. Kepadaku. Maka pada akhirnya, gemuruh petir adalah awal bagimu untuk menentukan pilihan.
Apakah kemudian hujan yang akan datang itu kusyukuri karena mengairi ladang-ladangku, ataukah kemudian aku akan berdiri menentangnya, bersumpah serapah meski tentu saja hujan itu lebih perkasa dan aku akan kalah?
Gemuruh petir adalah saat untuk menentukan pilihan. Bukan tentang salah dan benar, namun mengenai sudut pandang mana yang kau pilih terhadap perubahan yang dia peringatkan kepadamu.
Enrai: Gemuruh petir di kejauhan (bhs. Jepang)
Berpikir.
Jika ada sesuatu yang paling jarang kulakukan akhir-akhir ini, itu adalah berpikir. Oh, memang iya, banyak aktivitas yang kujalani. Bekerja. Menulis berita. Meracau tidak jelas. Dan tentu saja, menyelesaikan tugas belajar di sekolah yang kian lama kian tidak menarik itu.
Kesemuanya itu membutuhkan kerja otak, tentu. Tetapi kalau harus jujur, aku merasa semakin kurang meluangkan waktu untuk sungguh-sungguh berpikir.
Ketika kita semakin terbiasa dengan pekerjaan sehari-hari, terkadang segala sesuatu berjalan dengan sendirinya. Semua terselesaikan dengan refleks. Dari sudut pandang produktivitas, mungkin ini sesuatu yang baik. Semakin sedikit waktu kita butuhkan untuk menuntaskan sesuatu, semakin cepat kita dapat menuntaskan deretan tugas-tugas yang berurutan datangnya. Namun otak yang jarang memperoleh tantangan lambat laun akan melemah. Seperti yang kurasa sekarang.
Mungkin engkau salah satu dari orang-orang yang sering mendapatkan inspirasi di saat mandi. Sekarang ini aku berkesimpulan jangan-jangan karena di saat itulah, ketika mental kita sejenak lepas dari tanggung jawab kerja (maksudku, engkau tidak pernah bekerja telanjang, ‘kan?), pikiran-pikiran kita bisa dengan lancar datang dan bernyanyi pada kita—nyanyian yang tampaknya terlalu asing dan aneh bagi otak kita saat ada dalam mode bekerja.
Akhir-akhir ini, momen-momen berpikir itu biasanya kudapatkan ketika mengendarai motor di jalanan. Yang, tentu saja, adalah berbahaya. Kalau boleh jujur, aku adalah orang yang ketika berkendara sendirian alam pikirannya bekerja dalam mode setengah sadar. Kalau aku sampai di tempatmu dan engkau bertanya padaku apa saja yang kulihat dan kutemui di jalanan tadi, kemungkinan besar aku tidak tahu. Malah, kadang-kadang aku harus berpikir ulang untuk mengingat jalan mana yang baru saja kulalui.
Aku harus mencari momen-momen lain, yang lebih tidak berbahaya. Jika otakku tak lagi bisa bernyanyi apapun yang ingin dia lagukan kepadaku, aku takut aku sudah berubah menjadi mesin seutuhnya.
Kembali.
Jika volume musik telah kuturunkan, hingga lagu itu berubah fungsi dari hiburan utama menjadi latar belakang yang sekedar mengarahkan suasana hati, barulah biasanya aku bisa cukup berkonsentrasi menulis kembali. Seperti saat ini.
Aku kangen menuliskan cerita-ceritaku lagi.
Gemar sekali aku melompat-lompat dari satu blog seorang kawan ke blog yang lain. Dari tempat Febri dengan kisah-kisahnya di Negeri Oranye. Menuju tempat Rukma entah itu sketsa-sketsa atau puisi atau renungannya. Juga ke rumah Ibnu yang akhir-akhir ini terus berkutat dengan CodeIgniter. Dan, ya, termasuk juga menuju blog empat wanita unik yang masing-masing punya gaya bahasanya sendiri dalam bercerita itu.
Dan kian aku mengikuti kisah mereka, rasa-rasanya di hati ini makin terbersit juga niatan untuk menulis lagi. Mengabadikan momen-momen yang berlalu setiap hari, karena entah kenapa sepertinya panah waktu terus juga bergulir, melaju, tanpa bisa meninggalkan jejak-jejak yang cukup banyak untuk berbekas seluruhnya dalam ingatanku yang tak terlalu cemerlang ini. Kuharapkan tulisan-tulisanku bisa membawa diriku di masa nanti kembali ke nostalgi silam yang pastinya terasa lucu, konyol, namun tetap menghangatkan hati.
Jadi ini aku lagi. Sudah entah keberapa kalinya kuucapkan itu, di berbagai tempat yang berbeda, tapi inilah aku.
Setidak-tidaknya kali ini, aku tidak berpikiran untuk berhenti.