The Fardreamer

In loving memory of all the dreams.

Sidik.

tinggalkan komentar »

Dari televisi aku melihat ada sebuah jasa penguak potensi diri manusia lewat sidik jari. Biayanya 1,5 juta. Nanti 10 jarimu di-scan, dan hasilnya akan keluar 5 hari kemudian.

Ayo di-reverse engineer sebentar.

Gambar sidik jarinya di-scan, berarti data ada di dalam komputer, ya? Lalu kenapa butuh waktu 5 hari untuk mendapat hasil? Kelihatannya algoritma yang dipakai benar-benar kompleks dan prosesor intensif. Atau mereka sekedar manual, pakai jasa orang yang bisa “membaca” sidik jari.

Kelihatannya lebih masuk akal yang terakhir. Bukannya tidak percaya, tapi kalau berurusan dengan apa dan bagaimana manusia, komputer hari ini masih belum sanggup bicara banyak. Wong memprediksi bagaimana protein dalam tubuh manusia itu terbentuk masih gelagapan, kok.

Jadi sepertinya semua urusan scan dan data di dalam komputer itu cuma sekedar akal-akalan supaya mereka kelihatan hi-tech dan bisa sok pasang harga tinggi. Absurd.

Terus, apa iya dari sidik jari bisa dibaca potensi seseorang? Katanya sih karena sidik jari itu selalu unik. Tapi pola pembuluh darah di belakang retina mata seseorang juga unik. Iris mata juga. DNA juga. Kenapa harus sidik jari?

Ini ada yang sedikit lucu.

Though fingerprints cannot be identical, they can, in fact be very similar. Two identical twins, for example will have fingerprints that to the naked eye might appear identical. In fact some fingerprint characteristics may be a result of genetics. Thus it may be possible to preliminarily identify familial ties by examining the fingerprints of close family members. (Sumber)

Kalau kemungkinan besar proses penguakan sidik jari ini dilakukan secara manual, sepertinya akurasinya tidak akan bisa terlalu mendetail. Kalau kasusnya seperti di atas, bagaimana? Kembar identik kadang-kadang punya sidik jari yang identik kalau dilihat dengan mata telanjang.

Jadi anak kembar identik akan punya bakat yang sama, menurut jasa penguak potensi diri ini. Banyak contoh yang mengatakan iya, banyak contoh yang mengatakan tidak. Maka akurasinya patut dipertanyakan.

Lagipula, kok kelihatannya jasa ini jadi sekedar pelarian ibu-ibu kota yang sibuk untuk mencari tahu bakat anak-anaknya tanpa mau meluangkan waktu untuk benar-benar mengamati dan berinteraksi dengan anak-anak mereka, lho.

Tidak perlu ah sampai pergi jauh-jauh dan membayar mahal untuk sekedar mencari tahu potensi anak-anak. Just observe and listen to your child. They’ll let you know what they’re great at.

Written by Hafiz

Agustus 25, 2008 pada 1:24 am

Ditulis dalam Absurd, Refleksi

Tinggalkan Balasan