Archive for Oktober 2008
Chisburger.
Tentang rencana membeli HP:
(20:24:08) Hafiz: HADOOH MALES BUDAL MENEH GOLEK
(20:24:21) Henry: tilpun dunk
(20:24:24) Henry: delivery order
(20:24:26) Henry: 14045
(20:24:29) Hafiz: mas2
(20:24:36) Hafiz: konco sampeyan due n73 a?
(20:24:45) Hafiz: tak tukue ngko tak traktir chisburger
(20:25:02) Henry: hahahahahahahaha
Saujana
Saujana adalah kata bahasa Indonesia yang paling aku suka. Dan malam ini aku tak bisa membiarkannya lepas dan berlalu.
sau.ja.na n, — mata (memandang) sejauh mata memandang; sepemandang mata jauhnya.
Prioritasisasi.
Tentang status Y!M-ku yang berkata “Bosen sama komputer dan sebangsanya!”:
(19:51:43) Rudy: akakaka
(19:52:06) Rudy: mencapai titik jenuh tah :D
(19:52:18) Hafiz: iyo pek
(19:52:28) Hafiz: bahkan internetpun ngga menarik lagi ^.^
(19:52:35) Rudy: wew
(19:52:46) Rudy: coba hiking ngono loh
(19:52:55) Rudy: nang bromo ato nang panderman
(19:53:07) Hafiz: iyo mangkane aku ate golek hape sing iso gae moto
(19:53:13) Hafiz: -prioritasisasi yang aneh-
(19:53:20) Rudy: ahahahah
(19:53:30) Hafiz: pingin dolen leren golek kamera sek haha
(19:53:56) Rudy: yo iyo no
(19:54:20) Rudy: ga iso dicritakne lek ga gowo kamera
(19:55:28) Hafiz: yo kan?
(19:55:35) Hafiz: ga ono sing percoyo lek aku metu omah lek ga ono foto2ne
(19:55:36) Hafiz: hahaha
(19:56:08) Rudy: akakaka
(19:56:29) Hafiz: pembicaraan bodoh ki
(19:56:31) Hafiz: tak blog ah :))
Musisi.
Aku mendapat pemikiran begini: para musisi itu, entah band atau vokalis, pada akhirnya hanyalah penyedia layanan jasa biasa. Seperti Pak Pos mengirimkan surat, petugas PDAM memeriksa air, musisi-musisi itu tugasnya sekedar menyediakan musik untuk kebutuhan emosionalku.
Amplify my mood. Buat aku terjaga. Percepat denyut nadiku. Sedikit legakan kesedihanku.
Tapi tidak lebih dari itu.

Kurt Cobain. This dumb loser killed himself. Pak tua pendorong gerobak sampah yang tiap pagi berkeliling di kampungku tidak menyerah pada nasib seperti vokalis rendahan ini. Kalau engkau ingin menggemari seseorang, sekali lagi pikirkan, mana yang akan kau pilih?
Jadi dengar ini, kalian para musisi. Mulai hari ini kalian bekerja untukku, bukan sebaliknya aku menyembah-nyembah pada tiap aksimu.
So go and make some good music for me.
Lagu.
Pernah coba bayangkan kalau lagu-lagu cinta yang biasa itu engkau belokkan maknanya menjadi perbincangan si penyanyi dengan Tuhannya?
Sandaran Hati, Letto.
Yakinkah ku berdiri
Di hampa tanpa tepi
Bolehkah aku
Mendengar-Mu?Terkubur dalam emosi
Tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku
Merindukan-MuTerpuruk ku di sini
Teraniaya sepi
Dan ku tahu pasti
Kau menemaniDalam hidupku
KesendiriankuTeringat ku teringat
Pada janji-Mu ‘ku terikat
Hanya sekejap ‘ku berdiri
Kulakukan sepenuh hatiPeduli ‘ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika Kau-lah sandaran hatiKau-lah sandaran hati
Sandaran hatiInikah yang Kau mau?
Benarkah ini jalan-Mu?
Hanyalah Engkau yang kutujuPegang erat tanganku
Bimbing langkah kakiku
Aku hilang arah
Tanpa hadir-MuDalam gelapnya
Malam hariku…
It made perfect sense.
Sayap.
“Aku ingin belajar hal-hal yang lebih luas,” kataku padamu sore itu. “Kupikir aku sudah cukup belajar untuk bekal mencari nafkah. Tapi aku belum cukup belajar untuk bekal hidupku.”
Andai ini sebuah kisah di dalam novel, biasanya tulisan akan dipotong sampai di situ dan berlanjut di bab selanjutnya. Di bab itu, engkau akan bisa membaca ceritaku berpetualang, mblakrak, ke berbagai tempat. Mungkin tersesat di Cikarang. Mungkin main air dan foto-fotoan di satu pantai terpencil di Jawa Barat bersama anak-anak ITB yang itu. Ke Yogya. Filipina. Singapura. Entah ke mana lagi.
Di dunia nyata, sayangnya, kisah itu sementara terhenti sebelum bab itu bisa dimulai.
Masih banyak yang harus kuselesaikan di sini. Tapi tidak apa. Setidaknya niat itu sudah ada. Tinggal bagaimana aku memerdekakan diri dari semua rantai yang kebanyakan sia-sia ini.