Archive for Desember 2008
Kutuk.
Gadis kecil berkerudung itu di kala hujan jam 10 malam masih duduk di emperan berlumpur berjualan tahu isi, di parkiran samping Malang Town Square.
Ya, hanya itu ceritaku kali ini.
Celaka. Celaka kita semuanya.
Hutang.
It’s your life and those imagined obligations are the biggest and most pervasive fraud on the planet. You don’t owe anyone shit, and they don’t owe anything to you. Know what you value in your life, know what your personal boundaries are, and stick to them. I’m not saying you should leave your employer high-and-dry when they need you, but do NOT let an entity that would drown you in front of your own mother for a twopence make you their slave.
Sempurna.
Nobody’s perfect,
and I am nobody.
Therefore I’m perfect.
Yeah, but you’re still nobody, hence your perfection does not mean a thing to anybody.
If a tree falls in a forest and no one is around to hear it, does it make a sound?
Pemerintah.
Dari namanya saja sudah salah.
Maka ya wajar saja kalau bisanya hanya mengatur-atur dan mintanya selalu dituruti.
Coba kalau namanya Penanggung jawab. Mungkin akan lain ceritanya.
Argumentasi.
Guru pendidikan Pancasila di kelasku, kelas 1C SMP Negeri 3 Malang, memberi kami sebuah persoalan prioritas tentang benda-benda apa yang paling dibutuhkan bagi seorang murid seperti kami. Semua benda telah terurut rapi kecuali untuk dua hal: tas dan sepatu.
Mana, menurutmu, yang lebih penting antara tas dan sepatu bagi seorang murid?
Aku berargumen kepadanya bahwa sebuah tas lebih utama, karena tas itu berguna melindungi buku-buku tempat ilmu itu tercatat dan tersimpan. Tanpa sebuah tas, buku-buku itu tentulah sulit dibawa, beresiko tercecer dan hilang di mana-mana.
Guruku berargumen bahwa sebuah sepatu lebih utama, karena peraturan sekolah telah mewajibkan murid-muridnya untuk bersepatu.
Dia menyalahkan jawabanku, dan sejak saat itu perlahan-lahan runtuh kepercayaanku terhadap sistem pendidikan formal di negeriku ini.
Goblok.
Kata berita di tivi barusan: Pengesahan RUU MA tentang usia maksimal Jaksa Agung terhambat karena PDIP bersikukuh pada angka 65 tahun, PPP pada 67 tahun, sementara yang lain sudah sepakat pada usia 70 tahun.
One question: Who fucking cares?
Mau berapa banyak lagi duit rakyat dipakai untuk membiayai rapat yang molor hanya karena beda dua, lima tahun yang jujur saja apakah engkau benar-benar yakin itu memiliki hubungan langsung, pengaruh langsung terhadap kesejahteraan rakyat yang notabene tengah kau genggam amanatnya itu?
Dan aku lihat sendiri bagaimana mereka di televisi berdalih bahwa usia yang mereka ajukan pantas karena ada mereka-mereka yang masih potensial ini itu segala macam omongan sampah. Sheesh. 65. 67. 70.
Beranikah kamu bersumpah di hadapan Tuhan bahwa angka-angka itu jujur telah kamu perhitungkan benar-benar, kamu pikirkan benar-benar untuk kepentingan rakyat, not just some random numbers you pulled out of your ass? Beranikah?!
Partikel.
Deru air kecoklatan yang mengalir dari mesin cuci menuju pembuangan membuatku terdiam. Wow. Tercampur dalam air itu adalah debu-debu dan segala macam partikel yang kukumpulkan di stasiun kota, di Jakarta, di Cikarang, di Bandung. Di dalam Gajayana, busway, bis kota, di atas ojek, motor pinjaman, dan terakhir hampir 24 jam perjalanan pulang menumpang Kramat Djati. Mereka semua terkumpul menjadi satu pada baju-bajuku dan akhirnya harus menemui takdir selanjutnya mengalir di got kecil di pinggir satu jalan yang juga kecil di perumahan Sawojajar, Malang.
Dan bukankah atom-atom yang sekarang menyusun tubuhku ini dulunya barangkali menyusun tubuh manusia yang lain, bisa juga bebatuan, atau mungkin seekor pterodactyl, dan hampir pasti jauh sebelumnya mereka bergolak bersama dengan atom-atom di tubuhmu di dalam sebuah bintang besar yang menyala pijar?
Menakjubkan.
Blackbeard.
Aku ingin jadi seperti Blackbeard.
Ah, ya, tentu saja. Bukan itu nama aslinya. Tetapi aku memanggilnya Blackbeard, karena tak ada yang lebih mengingatkanku kepadanya selain tokoh itu. Fisiknya lebih atletis daripada Blackbeard yang asli, tipikal seorang sopir bus malam yang tentulah terbiasa kerja berat tiap hari. Tetapi yang paling berkesan bagiku adalah tawanya.
Blackbeard, salah satu sopir pengemudi Kramat Djati yang membawaku dari Bandung ke Malang minggu kemarin, adalah sosok yang tak pernah kehilangan senyum dan tawanya sepanjang perjalanan.
Bahwa jalan alternatif yang diinformasikan oleh sopir bus lainnya ternyata jauh lebih macet dan tak mungkin bisa memutar balik lagi, dia tertawa.
Bahwa sopir sebuah truk yang melintas memakinya karena berebut jalan, dia tertawa.
Bahwa dia harus menyetir tiga, empat, lima jam lebih lama karena jalan luar biasa padat, dia hanya tertawa.
Dalam benakku, tampaknya tak ada satupun yang bisa menyusahkan hatinya. Apapun yang terjadi, tampaknya ia selalu tersenyum, tertawa, bercanda dengan rekan-rekan dan penumpangnya. Dan aku cukup yakin tawanya bukan topeng, bukan sekedar pelarian beban di hatinya.
Tetapi dia sungguh-sungguh tertawa.
Bahwa itu sungguh-sungguh tawa seseorang yang cobaan hidup dan berbagai masalah sama sekali tak bisa menyentuhnya. Bahwa itu sungguh-sungguh tawa seseorang yang tak ambil pusing dengan sedemikian tidak pentingnya dunia.
Aku ingin jadi seperti Blackbeard.
Biru.
Secara umum langit itu bisa dibagi dua: awan-awan putih dan daerah biru yang tak tertutup awan.
Hari ini, tak ada biru. Aku tak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya.
It’s gonna be a long, rainy day.
Perhatian.
Upaya-upaya [kemunculan para korban lama Agung untuk menuntut dia lagi] kami rasanya hanya sebuah upaya untuk mengalihkan perhatian dari kasus yang ada sekarang.
- Pengacara Agung Setiawan
Eh. perhatian siapa?
Masyarakat? Ada urusan apa seorang pengacara menentukan apa yang ingin diperhatikan masyarakat?
Media? Sama juga, ada hak apa seorang pengacara menentukan mana yang dianggap menarik oleh media?
Oh, atau perhatian pihak yang berwajib? Jadi menurutmu pihak berwajib itu seperti seorang anak kecil dengan short attention span syndrome yang begitu ada kasus baru, kasus yang ada sekarang jadi tidak disentuh lagi, begitu?
Perhatian siapapun yang menjadi concern pengacara yang terhormat ini, it still doesn’t make any sense. Aku tidak ada urusan apapun dalam kasus Agung/Marcela/Ananda (tentu saja), hanya aku sering tergelitik dengan kalimat-kalimat dengan logika yang buram semacam itu.