Archive for Januari 2009
Lacur.
Memangnya siapa kamu berani memasang foto, angka, dan janji-janji di depan pohon-pohon, taman, dan pagar pembatas jalan?
Kamu pikir dengan kostummu yang kedodoran dan make-up pas-pasan dan ekspresi muka tidak jujur seperti itu, sekalipun juga ditambahi gambar pembesar paling puncak partaimu di latar belakang, kamu bisa meraih perhatian, respek dan mendapat tempat di ingatanku?
Pelacur saja jual diri tak sampai merusak keindahan kota seperti ini. Kalau boleh tahu, berapa per jam kamu pasang tarif?
Update: Pengeluaran biaya kampanye parpol dan pemerintah di tahun 2008 mencapai 2.2 triliun. Jadi kalau nanti sudah menjabat lalu cepat-cepat mengais-ngais apa saja supaya cepat balik modal, jangan kaget.
Vertigo.
Semula berawal dari gerhana matahari cincin sore kemarin.
Aku tak ingin melihatnya. Tak ada rasa tertarik sedikitpun, tak ada niatan untuk tahu. Aku dengar beritanya dari koran dan televisi, mengerti bahwa toh di Surabaya (dan karenanya, seharusnya di Malang juga) gerhana ini hanya akan terlihat sebagian. Jadi pembicaraan dengan Rukma soal gerhana yang akan mulai terlihat di Bandung sana hanya kutanggapi sambil lalu.
Kemudian aku naik ke lantai dua.
Dan aku melihat ke arah langit. Sungguh, saat itu pun aku sama sekali tak ada keinginan melihat matahari berubah gelap. Hanya ingin tahu apa yang dilihat orang-orang di Malang yang masih juga penasaran dengan gerhana meski jelas-jelas tak bisa dilihat dari sini.
Seharian hujan berkali-kali mengguyur kota. Saat itu hujan tengah reda, tetapi mendung tebal masih menggantung di mana-mana. Dan itulah yang kulihat.
Awan. Awan yang bercahaya, sudah pasti karena matahari bersembunyi di baliknya.
Awalnya aku hanya melihat sebagian, tertutup atap di depan kamar adikku. Saat itu aku sudah merasakan silau yang cukup intens, mataku susah-payah berakomodasi dari suasana gelap di lantai bawah menuju langit yang terang benderang.
Dan aku dengan bodohnya melongok lebih jauh, ingin melihat awan itu secara penuh.
Dua detik. Cuma itu yang dibutuhkan.
Aku turun. Duduk di depan laptopku, memejamkan mata.
Dunia mulai bergerak.
Yang tentu saja tidak masuk akal karena aku duduk diam, mencoba mengenali rasa aneh di kepalaku, namun jelas-jelas tak bergerak sebanyak yang dilaporkan oleh syaraf-syarafku.
Aneh.
Jadi aku pergi ke kamar dan berbaring, telentang, menatap langit-langit.
Dan dia berputar. Berlawanan jarum jam, langit-langit kamarku berputar, terus-menerus. Logikaku berkata, that’s stupid, dan aku berulang meyakinkan otakku bahwa dia masih tetap di situ, tidak kemana-mana. Namun putarannya terus berjalan, makin cepat. Paradoks yang mengerikan, melihat sesuatu yang terus menerus bergerak sementara di dalam kepalaku aku seratus persen yakin dia tetap ada di situ, bergeser kecil pun tidak.
Aku tak bisa menahannya lebih lama, jadi kupejamkan mata.
Dan tubuhku mulai terasa berputar, bergulung-gulung seperti spiral, kali ini searah jarum jam.
Aku dalam masalah besar, pikirku dalam hati, sambil cepat-cepat bangun dan membuka halaman Wikipedia tentang Vertigo. Dari situ kucari lagi informasi lain tentang apa yang harus dilakukan saat mengalami vertigo.
Membuka situs-situs kesehatan saat mengalami vertigo menyadarkanku akan betapa buruknya desain user experience mereka. Bayangkan engkau sedang pusing, pandanganmu berputar-putar, dan engkau masih harus membaca satu artikel informasi yang demi meningkatkan pageview telah dibagi menjadi empat halaman, dan halaman pertama hanya berisi omong kosong tidak penting yang tak memberimu informasi apa-apa, dan dengan gusar engkau memburu link ke halaman berikutnya, yang karena hanya berupa angka “2″ dan si desainer tidak cukup pandai untuk memberi padding tambahan padanya, membuat target area untuk di-klik menjadi sangat kecil dan susah dicapai, dan, dan, dan…
…ahem.
Pada intinya, aku tidak berhasil menemukan informasi apapun. Jadi aku hanya duduk di lantai, diam, menundukkan kepala. Karena hanya dengan pose itu pusingnya sedikit berkurang. Aku ketakutan. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit.
Aku sempat berbincang lagi dengan Rukma saat aku mencari informasi di Wikipedia, dan dia bertanya apakah aku juga merasa ingin muntah, yang tampaknya adalah gejala umum dari vertigo. Aku bilang tidak. Saat itu aku memang tidak ingin muntah, jadi kupikir ini sekedar vertigo ringan yang segera akan hilang.
Aku muntah tiga puluh menit kemudian. Berulang-ulang hingga kerongkonganku terasa panas dan barangkali radangnya kambuh juga, entahlah.
Aku tidak sering muntah. Sepengalamanku, muntah biasanya membuat rasa demam yang menyertai jadi terasa lebih ringan. Tapi tidak dengan vertigo. Muntah atau tidak, sensasi gerakan-gerakan itu masih juga ada.
Dan di atas sofa aku tengkurap, memejamkan mata, waktu terasa berjam-jam lamanya. Di luar hujan mengganas. Aku tak tahu bagaimana cara bisa sampai di dokter. Hanya di posisi seperti ini aku bisa menahan pusingnya. Mengangkat leher sedikit, menoleh sebentar, duduk sesaat, dan vertigo itu datang kembali.
Menjelang tengah malam, setelah fase tidur-bangun dan kesadaran naik turun, setelah satu obat pusing, setelah dua kali dipijat oleh bapakku, vertigo berangsur meninggalkanku.
Pagi ini, aku sudah merasa baik. Alhamdulillah.
Aku tak pernah mengalami vertigo sebelumnya, dan kesan pertama kedatangannya padaku adalah sesuatu yang kuharap tak pernah terjadi lagi. Padaku dan pada kalian semua. It’s horrible. Gerakan-gerakan yang otakmu berkata palsu namun terus-menerus dilaporkan oleh pandangan mata dan indera-inderamu yang lain. Berbaring, salah satu reaksi pertama yang wajar dilakukan untuk membuatmu nyaman saat engkau tidak enak badan, justru berubah menjadi mengerikan dan memperparah rasa pusingnya. Vertigo memutarbalikkan semuanya.
Jadi semoga kita semua tetap sehat, sampai seterusnya. Jangan ada yang seperti ini lagi.
Amin.
Aktor.
Satu hal yang sering terjadi dalam pikiranku adalah mengenang kejadian-kejadian lama untuk kemudian berpikir, “wah, sayang di masa itu aku sama sekali tak menyadari bahwa sebenarnya aku tengah berada dalam satu arus kisah tersendiri, tengah menggoreskan memori, yang suatu hari nanti bisa dikenang dan ditertawakan sendiri dalam hati.”
Jadi saat ini kurubahpaksa pikiranku.
Sekarang kuyakinkan diriku bahwa saat ini pun aku sedang dalam pusaran cerita yang baru, sedang menyusun kenangan-kenangan lewat apapun yang kukerjakan. Sekarang aku menyadari: aku kembali menjadi aktor untuk cerita pendek kali ini. Dan kalian, kalian juga ada di sini. Kisahmu melintasi punyaku, bersilangan, campur aduk, larut melebur menjadi satu epik yang tak terjangkau pikiran pengetahuanku.
Aku sedikit tersenyum tiap menyadari ini.
Let’s put up a good show, folks.
Rival.
Hidup di tahun 2009 ada tidak enaknya juga, pikirku. Di usia dunia yang sudah setua ini, ada jauh terlalu banyak hal yang sanggup menyaingi dan melebihi apapun yang ingin kita buat.
Semua novel yang ingin kutulis sudah pernah dituliskan, dengan lebih baik. Semua sajak yang ingin kukarang sudah pernah dikarang, dengan lebih baik. Semua foto yang ingin kuambil, wah, tinggal mampir Flickr sebentar sudah cukup untuk sadar bahwa, ya, semua yang bisa dan tak bisa kubayangkan sudah pernah diambil. Pun dengan lebih baik dari yang aku bisa.
Inilah beratnya hidup di tahun 2009. Selama beberapa hari ke belakang aku sempat kehilangan selera untuk berkreasi apapun memikirkan ini semua. Untuk apa berkreasi kalau semua toh sudah pernah ada?
Lalu kemarin aku menemukan obatnya.
Jawabannya adalah bahwa ternyata semua hal yang hebat-hebat, yang luar biasa, yang sudah pernah ada itu, kemungkinan besar sama sekali tak terjamah olehmu. Oleh orang-orang yang peduli denganku. Bahwa sehebat apapun cerita, seindah apapun pemandangan yang sudah pernah ada, engkau mungkin belum sempat dan tak ada hasrat memahaminya. Adalah bahwa sebagian sangat besar dari semua rival itu sama saja tidak ada bagimu.
Sedangkan untuk karya-karyaku, (barangkali) engkau masih sedikit ingin tahu. Masih ingin membaca. Masih mau mendengarkan.
Jadi apapun yang kubuat nanti, sebiasa dan sesudahpernahdibuat apapun dia, masih ada harapan untuk bisa bermakna untukmu dan untukku sendiri.
Alright.
Back to making things, then.
Bendera.
Bendera-bendera membingungkanku. Terutama bendera-bendera kecilmu, satu warna berderet-deret dari ujung jalan sana hingga ujung yang lain. Apa yang kamu mau dengan bendera-bendera itu? Apakah kamu berharap ada orang melihat dan berpikir, “oh, partai yang bisa memajang bendera sebanyak ini pastilah partai yang peduli pada bangsa dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk memajukan Indonesia, dan karenanya aku harus memilih dia pemilu nanti”?
Ataukah kamu ingin para penduduk kota ini beranggapan bahwa wilayah jalan tadi telah menjadi daerah kekuasaan partai ini sehingga mereka semua segan dan hormat pada lambang yang tertera pada bendera-bendera itu?
Atau sebenarnya ini semua karena kebetulan pimpinan partaimu ingin berkunjung dari singgasananya di atas langit sana menuju kota kecil ini dan untuk itu kamu perlu sediakan dia hiburan sedemikian rupa termasuk pula lambaian-lambaian manja bendera-bendera berderet itu?
Bendera-benderamu membingungkanku. Sungguh.
Pongah.
Aku sama sekali tidak bisa mengerti kenapa kalian harus gembar-gembor terus di televisi hanya karena wakil partaimu melakukan sesuatu yang memang sudah sedari dulu menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
Iya, walaupun dia melakukannya tiga kali. Walaupun tidak pernah terjadi dalam sejarah sebelumnya.
Kamu pernah lihat tukang sampah menyombongkan diri, “aku membersihkan sampah sepanjang waktu…”?
Kamu pernah lihat tukang parkir berkoar, “aku membantu orang-orang mengatur kendaraannya keluar masuk toko ini…”?
Memori.
Dini hari ini aku terbangun, mendengarkan satu lagu (sengaja disembunyikan judulnya daripada dihujat kanan kiri), dan menyadari sesuatu.
I have memories.
Aku adalah seorang yang pelupa. Tetapi saat ini masih sangat terasa kesan-kesanku saat kemarin pergi ke Jakarta dan Bandung. Debar jantungku ketika bingung tak tahu arah. Ketika melihat hal-hal baru. Bahwa ternyata bepergian membuatku memiliki kenangan.
Hidupku sehari-hari adalah rentetan kegiatan motonon. Bangun. Buka laptop. Kerjakan semua aktivitas di situ: kerja, komunikasi, bermain, belajar. Lalu capek. Tidur. Tidak terlalu mengherankan, seharusnya, mengapa aku begitu pelupa. Otakku tidak menangkap satu apa yang cukup menarik untuk diingat-ingat.
Ah. Jadi setidaknya sekarang aku mengerti bahwa aku masih belum pikun, apalagi Alzheimer. Otakku sekedar tak cukup alasan menarik untuk mengingat banyak hal, itu saja.
Dudul.
Noda putih di atas huruf O pada keyboard itu tak mau hilang-hilang juga. Kuas pembersih keyboard tidak mempan. Kutiup-tiup, kugosok dengan tisu, tak bergeming. Kukorek-korek dengan kuku telunjukku, dia tetap tak mau hilang. Apapun yang kulakukan, masih saja goresan aneh misterius itu tertempel di situ, putih menempel di ujung kanan bawah huruf O-nya.
Satu menit.
Lima menit.
Lalu aku tersadar.
Oh My God.
Ini.
Tombol.
Q.
(True story)
Amuk.
Malam ini kuambil hakku sebagai
manusia
untuk murka.
Malam ini lelaki terkutuk itu
mati.
MATI!
Baterai.
Bila hape Samsung ibuku mulai kehabisan baterai, tiap kira-kira interval 1 menit dia akan bunyi-bunyi semacam ringtone sendiri yang, tentu saja, membuat baterai yang sudah tipis itu jadi semakin cepat habis.
Seolah-olah seseorang di Samsung sana mendesain hape itu supaya ingin cepat-cepat mati tiap kehabisan energi. Weird.