The Fardreamer

In loving memory of all the dreams.

Archive for Februari 2009

Birokrasi.

with 2 comments

Ayo kita berdiskusi.

Bagaimanakah cara yang Islami untuk menghadapi birokrasi yang berbelit-belit?

Kemungkinan skenario yang bisa kupikirkan:

  1. Jalani saja. Semua orang juga mengalaminya. Semua orang juga menderita hal yang sama.
  2. Jadilah kaya, jadilah kuat, lalu gunakan kekayaan dan kekuatan itu untuk mempermulus persoalan yang berbelit.
  3. Jangan ikuti birokrasi sama sekali. Be free.

Untuk poin pertama, ini adalah hal yang sering dikemukakan orang kalau sudah kehabisan alasan yang logis untuk mempertahankan suatu kebiasaan yang buruk. Ospek, misalnya. Sudahlah kamu ikuti saja. Saya dulu menderita, sekarang giliran kamu. It doesn’t solve any problems.

Poin kedua, mau tidak mau harus diakui bahwa di dunia ini kemudahan datang pada orang-orang yang kaya dan kuat. Tidak adil, tetapi dunia bukan tempat yang adil. Jujur saja kalau aku kaya, aku lebih pilih suap mereka semua daripada mengikuti prosedur yang berbelit dan membuang-buang waktu, tenaga, pikiran. Kalau Tuhan menuntutku karena suap itu, biar kutunjukkan pada Dia bahwa hanya dengan cara itu aku mendapatkan hakku, hak beroleh service yang selayaknya. Bahwa merekalah pemicu aku melakukan semua itu. Jika tidak ada yang berbelit, tentu tidak ada alasan untuk suap dan semua itu.

Poin ketiga, berbelitnya birokrasi adalah pertanda sistem yang rusak, bukan? Dan sistem yang rusak tidak perlu diikuti. Ya, barangkali lalu ada yang bertanya, “kamu sendiri apa kontribusimu untuk memperbaiki sistem?” Tetapi rasa-rasanya sudah cukup banyak bantahan untuk pertanyaan itu. Yang dibahas di sini adalah, jika dia rusak, tinggalkan saja. Be free. Jangan ikuti sistemnya.

Rasa-rasanya tidak ada jawaban yang memuaskan. Bagaimana menurutmu?

Written by Hafiz

Februari 26, 2009 at 6:00 pm

Ditulis dalam Absurd

Hilang.

without comments

Kasus ini terjadi berkali-kali:

“Bosen ah lagu yang ini, skip ah.”

Satu menit. Dua menit. Tiga menit.

Kursor berputar-putar tak menentu.

Winamp-ku kok ngilang gini sih?

Noleh.

Oh.

Ternyata dengerin mp3 dari hape.

Written by Hafiz

Februari 24, 2009 at 5:21 pm

Ditulis dalam Absurd

Surat.

without comments

Tuhan,

Engkau tahu pasti aku ini ingin menjadi orang yang baik. Tetapi setiap hari aku membuat kesalahan-kesalahan yang implikasinya semakin menyadarkanku bahwa aku ini tidak bisa menjadi orang yang baik. Tentu saja tidak mungkin lagi buat mereka melihat bahwa aku ini di dalam hatiku ada keinginan menjadi baik, karena yang tampak dariku adalah kesalahan-kesalahan harianku itu.

Entah itu Engkau yang ganti menunjukkan kepada mereka, atau Engkau dengan KemahapandaianMu itu memberi jalan yang sama sekali tidak bisa kutemukan dalam cara berpikirku.

Sebentar lagi mereka akan datang dan berkata padaku jangan menyerah, jangan berpikir negatif, jangan berhenti, jangan merasa kalah, hanya pecundang yang jatuh dan tak berdiri lagi. Tolong juga tanamkan sedikit pengertian di hati mereka sebelum mereka terlanjur mengucapkan semua itu.

Aku ini hanya ingin bisa beribadah kepadamu. Tetapi entah itu aku yang mempersulit jalannya, mereka yang mempersulit jalannya, dunia ini yang mempersulit jalannya, atau Engkau yang mempersulit jalannya. Aku terlampau patah hati untuk memilih dan mencari tahu.

Hanya Engkau yang bisa menunjukkan padaku, hanya Engkau yang bisa menunjukkan pada mereka.

Segera, kalau aku boleh meminta.

Written by Hafiz

Februari 16, 2009 at 5:29 pm

Ditulis dalam Refleksi

Avatar.

with 2 comments

bagus ngejak gelut

Avatar YM ngejak gelut yo ngene iki.

Written by Hafiz

Februari 13, 2009 at 6:43 pm

Ditulis dalam Kisah

Ironis.

with 9 comments

Aku ini mencari titel sarjana komputer.

Tetapi lembaga yang sedianya memberi titel itu lucunya tidak becus komputer. Hari ini aku bayar SPP dan dengan melakukan itu maka otomatis dibuka lagi hakku untuk mengisi KRS, Kartu Rencana Studi, secara online.

Seharusnya.

Tetapi faktanya, baru besok aku bisa mengisi kartu itu.

Maaf, bukankah ini tahun 2009? Bukankah aku mau mengirim informasi dari sini ke belahan manapun di dunia lewat jaringan internet butuh kurang dari satu detik? Dan bukankah engkau sendiri yang memberi dia nama KRS ONLINE? ON-fucking-LINE?!

Lalu kenapa perlu satu hari cuma untuk verifikasi?

Dan apapun pembelaan dirimu soal ini, aku sudah sebelas semester tanpa mengalami delay seperti ini. Sebelas semester. Semakin lama, sistem bukan semakin baik, tapi memburuk.

Dari lembaga semacam ini aku mencari titel sarjana komputer.

Untuk mengumpulkan KRS, mahasiswa diminta mengumpulkan KHS, Kartu Hasil Studi semester kemarin. Logis. Maka ketika waktu KRS dimulai, KHS-KHS itu sudah sepatutnya diberikan pada mahasiswa. Ini juga logis.

Lalu kenapa hari ini, minggu kedua proses pendaftaran KRS berjalan, KHS kami semua tidak ada? Kenapa kami harus membuat surat nota yang ditanda tangani dosen pembimbing akademik yang menyatakan kami belum menerima KHS, hanya untuk mengambil KHS?

Bukankah KHS itu sudah dari sananya sudah pada fitrahnya diserahkan pada kami ketika KRS berjalan? Apa maksudnya nota-nota itu? Jangan-jangan nanti kami mau masuk ruang pengajaran perlu membuat nota pernyataan bahwa kami saat ini masih belum berada di ruang pengajaran dan ada kepentingan untuk masuk ke dalam?

What kind of god damn logic is that?

Dan dari lembaga semacam ini aku mencari titel sarjana komputer.

Lembaga tidak becus semacam ini.

Sebelum kamu bertanya kenapa menyelesaikan studi ini aku membutuhkan waktu begini lama, coba baca lagi dari paragraf pertama.

Written by Hafiz

Februari 10, 2009 at 5:21 pm

Ditulis dalam Absurd, Kisah

Bebal.

with one comment

Ada satu kata yang selalu bisa membuat darahku menggelegak seketika.

Ospek.

Rektor-rektor yang mengizinkan ospek terjadi di kampusnya, dengan segala kekerasan verbal, fisik, dan semuanya itu, kalian semua sampah. Berderet titel dan toga kebesaranmu itu? Tong sampah. Tinggi menjulang gedung rektoratmu itu? TPS, Tempat Pembuangan Sampah.

Senior-senior yang minta dihormati, membikin-bikin area sendiri dengan tulisan “Area Bebas Maba”, memasang tampang garang padahal sehari-hari mengemis-ngemis ke orang tua karena uang makan habis dan uang kos nunggak habis dipakai beli rokok, main PS, manusia macam apa kalian ini?

Kalian beranggapan bahwa semua itu adalah untuk menguatkan mental pesertanya.

Oke.

Kabari aku kalau nanti anakmu usia lima tahun. Biar kubentak kucerca dia keras-keras dan kuhajar dia dengan tangan dan kakiku. Supaya kuat mentalnya.

Kabari aku kalau nanti anakmu usia sepuluh tahun. Biar kubentak kucerca dia keras-keras dan kuhajar dia dengan tangan dan kakiku. Supaya kuat mentalnya.

Kabari aku kalau nanti anakmu usia lima belas tahun. Biar kubentak kucerca dia keras-keras dan kuhajar dia dengan tangan dan kakiku. Supaya kuat mentalnya.

Kabari aku kalau nanti anakmu usia dua puluh tahun. Biar kubentak kucerca dia keras-keras dan kuhajar dia dengan tangan dan kakiku. Supaya kuat mentalnya.

Kabari aku kalau nanti anakmu usia dua puluh lima tahun. Biar kubentak kucerca dia keras-keras dan kuhajar dia dengan tangan dan kakiku. Supaya kuat mentalnya.

Do those make any fucking sense to you? Kenapa begitu susah sekali memahami hal sejelas segampang ini?

Dan lebih mengenaskan lagi adalah ritual pemujaan setan semacam ini (ya, ini ritual pemujaan setan) terjadi di lembaga pendidikan. Pendidikan.

Ya Tuhan. Aku hidup di negara di mana lembaga pendidikan adalah pusat pusaran hal-hal goblok yang dilestarikan.

Written by Hafiz

Februari 9, 2009 at 1:38 pm

Ditulis dalam Absurd

Kakus.

with 4 comments

Hari ini tulisanku dibajak. Dulu juga pernah.

Lucu-lucu orang-orang ini.

Written by Hafiz

Februari 3, 2009 at 9:43 am

Ditulis dalam Absurd, Kisah