The Fardreamer

In loving memory of all the dreams.

Archive for Maret 2009

Paralel.

with 4 comments

Masa kecil adalah saat-saat yang sering menorehkan kesan dan kenangan yang tidak bisa hilang. Kadang-kadang aku sering menyesali kata-kata atau tindakan ke adik-adikku sendiri karena aku tak sungguh-sungguh yakin mana dari aku yang mereka lupakan dan yang mereka bawa sampai nanti dewasa.

Berbicara tentang kenangan, ada satu yang masih tercatat erat di dalam kepalaku. Taman Kanak-kanak. Waktu istirahat, seingatku, adalah masa-masa di mana ayunan di halaman depan sekolahku menjadi satu benda yang paling banyak diperebutkan. Kami bergantian, terkadang berebut, mereka-mereka yang bernyali tinggi terkadang suka mendorong kencang-kencang ayunan itu untuk mengusir penghuni sementara yang bernyali tidak terlalu tinggi (aku, misalnya).

Dan di tengah aktivitas keramaian sehari-hari itu tiba-tiba terdengar suara jeritan anak di kejauhan. Uki, namanya. Seperti sekelompok kucing yang telinganya berdiri bersamaan mendengarkan sesuatu yang mencurigakan, kami semua tersentak, menoleh, lalu berduyun-duyun mendekat melihat apa yang terjadi.

Dibopong seorang guru berjilbab, aku melihat Uki di daerah deret keran air tempat kami biasa diajari berwudhu (sampai sekarang, aku masih berwudhu sambil membisikkan melodi urut-urutan gerakan yang diajarkan di TK itu: “Pertama mencuci tangan, kedua berkumur, ketiga membersihkan hidung…”).

Mataku terbelalak.

Darah. Darah mengucur deras di pelipisnya. Kali pertama aku melihat, menyadari, mengamati bahwa seorang manusia yang terluka dapat bersimbah darah seperti itu.

Tak berapa lama kuketahui, dia mendapat lemparan batu dari seorang teman, Sidharta namanya. Batu itu telak mengenai kepalanya. Dan untuk kali pertama aku mempelajari bahwa hal yang mengerikan bisa terjadi di usia semuda ini. Bahwa engkau bisa saja mati di usia semuda itu.

Setidaknya hingga aku duduk di bangku SMP, aku masih mengingat jelas kejadian ini. My first witnessing of a tragedy, if you will. Of a human suffering major physical pain.

Aku tumbuh dewasa. Ingatan datang dan pergi. Disimpan dan direpresi.

Lalu Facebook. Bertemu teman-teman lama, berbagi cerita yang juga lama. Dan entah bagaimana kisah TK itu dibahas lagi. Dari satu reka ingatan seorang teman:

aq inget waktu “accident”nya hafiz sama sidharta di restu… *g bisa comment*

Huh?

Aku tahu aku pelupa. Memoriku pendek. Pun otakku sedikit aneh: engkau bisa mengacung-acungkan HP-ku di tanganmu, tetapi jika aku yakin HP itu ada di meja, aku masih tetap akan pergi ke meja itu dan mencari-cari.

Tetapi tidak, tidak untuk ingatan yang itu. Not that one. Impossible. Aku membantah, tentu saja. Itu bukan aku. Uki.

Dan dia menjawab lagi:

hoh, iya ta? cz yg aq liat berdarah2 waktu itu kmu… baju olahraga jadi merah semua…

Bulu kudukku merinding. Aku berdiri dan berkaca.

Oh God.

Di dahiku, kiri, aku melihatnya.

Bekas luka.

Written by Hafiz

Maret 28, 2009 at 8:39 am

Ditulis dalam Kisah

Kostum.

without comments

Dari bermacam poster baliho caleg yang mengotori kotamu dan kotaku juga, coba hitung berapa yang dari mereka berpenampilan seperti seorang rakyat.

Coba kamu amati. Jas. Kopiah. Kumis (ada yang ingat “jok, lali, coblos kumise!“?) Make up seperti mau berangkat kondangan. Alis palsu. Bedak tebal. Gincu. Fotografi bikinan studio beneran.

Coba.

Dari awal pun mereka sudah berjualan tampilan seperti apa kira-kira mereka nanti kalau sudah memimpin. Kalau sudah jadi bos. Kalau sudah mengkilap. Kalau kata Emha, orang-orang seperti inilah yang nantinya akan selalu berusaha merakyat.

Iya, merakyat. Mereka tidak pernah benar-benar tahu rasanya menjadi rakyat, tidak sungguh-sungguh menjadi bagian dari rakyat, sehingga harus melakukan aktivitas merakyat. Seolah-olah menjadi rakyat. Supaya awet menjabat. Supaya lancar upeti dan sesaji-sesaji.

Padahal pemimpin yang benar itu tidak butuh merakyat. Iya kan? Ngapain juga harus merakyat kalau dari awal dia memang adalah rakyat?

Written by Hafiz

Maret 9, 2009 at 1:17 pm

Ditulis dalam Absurd, Bangsa

Gelar.

with 9 comments

Hidup sebagai manusia di Indonesia adalah kehidupan yang tidak mudah, terlebih dengan persaingan yang sangat ketat antara para pemegang gelar pendidikan. Di negeri ini, gelar undergraduate saja adalah aset, dan di mana engkau berada seyogyanya dua, tiga huruf akronim itu tak lupa disematkan sesudah atau sebelum namamu. Apalagi kalau gelar yang berbau-bau asing.

Hal ini membuat persaingan semakin berat bagi rakyat jelata yang belum beruntung karena taraf pendidikannya masih sekedar memberi ilmu dan bukan memberi gelar. Tapi sudah cukup! Hari ini juga, masalah itu terselesaikan.

Memperkenalkan: gelar BB.,Sb.!

BB.,Sb. adalah gelar yang spesial. Berikut poin-poin penting mengenai gelar luhur ini:

  • BB.,Sb. adalah kependekan dari Bukan Berarti Saya Bodoh. Ini adalah ungkapan yang mulia, menjunjung harkat dan martabat tiap penyandangnya. Selain itu, dalam penulisan gelar kata “Bodoh” disingkat menggunakan “b” kecil, menandakan bahwa kebodohan adalah sesuatu yang harus selalu diperkecil dan diminimalisir.
  • BB.,Sb. didesain untuk tampak seperti dua gelar yang terpisah. Hal ini untuk mempersiapkan pemegangnya bahwa dalam menghadapi persaingan di dunia nyata, more is always better.
  • Gelar ini gratis dan boleh dipakai siapa saja. Hal ini selaras dengan cita-cita luhur menurunkan biaya pendidikan di Indonesia tercinta ini, karena gelar ini dapat diperoleh dengan harga spesial: nol Rupiah. Selain itu, BB.,Sb. menghargai sepenuhnya bahwa pendidikan adalah hak setiap rakyat, sehingga ia boleh dipakai dan diklaim oleh siapapun, tanpa terkecuali.
  • Gelar ini bersifat open source, dan diberi lisensi WTFPL (The Do What The Fuck You Want To Public License). Hal ini berarti bahwa siapapun berhak melakukan apapun untuk mengkopi, distribusi, maupun memodifikasi gelar ini. Barangkali kamu ingin mengubah kepanjangan dari gelar ini menjadi “Bachelor of Bullshitting, Superior Bullshittery“? Silahkan!

Setelah memahami kelebihan dari gelar ini, berikut adalah contoh penggunaan gelar:

  • Scrooge McDuck, BB.,Sb. : Ini adalah penggunaan yang paling umum, gelar diletakkan setelah nama.
  • BB.,Sb., Scrooge McDuck : Untuk mereka yang berjiwa petualang, dapat pula meletakkan gelar ini di depan. Hal ini dapat pula dilakukan oleh mereka yang kiranya akan menghadapi persaingan yang lebih berat. Seperti telah diketahui secara umum, gelar yang berada di depan nama memiliki bobot yang jauh lebih tinggi. Dengan pola seperti ini, nilai jual pemegang gelar akan meningkat setidaknya lima kali lipat.
  • BB., Scrooge McDuck, Sb. : Dengan sedikit kreativitas, seseorang dapat pula melakukan hal ini. Ini mengesankan bahwa pemegang gelar memiliki bidang minat yang luas dan beragam. Selain itu, gelar yang mengapit nama memberi wibawa tersendiri yang sulit ditandingi.
  • BB., H. Scrooge McDuck, Sb. : Apabila pemegang gelar juga memiliki gelar Haji, maka bentuk ini sangat tidak dianjurkan untuk dilakukan. Hal ini karena pembacaan langsung dari nama lengkap pemegang akan menjadi “Bukan berarti Haji…”, yang tentu saja adalah hal yang merugikan bagi image pemegang gelar itu sendiri.

Jadi, tunggu apa lagi? Setiap rakyat Indonesia dianjurkan untuk segera memegang gelar ini. Kabari teman-teman anda, sanak saudara semuanya!

BB.,Sb., menyamaratakan tingkat persaingan hidup dan kerja di Indonesia sejak 2009.

Selamat menggelari diri sendiri.
5 Maret 2009

Hafiz, BB., Sb.

Written by Hafiz

Maret 5, 2009 at 12:34 pm

Ditulis dalam Absurd

Tol.

with 2 comments

Hari ini adikku dan sesama kelas 5 SD lainnya di sekolahnya berangkat study tour ke Jakarta. Tak berapa lama berangkat, dia SMS mengabarkan kalau bisnya sudah sampai di Lawang. Tak lama berselang, datang SMS lagi.

Sudah masuk tol ke Jakarta, katanya.

Tol ke Jakarta. Kami semua tertawa. Di kepalaku sudah terbayang, ini bisa jadi satu posting lucu yang baru di Fardreamer.

Lalu aku berpikir sekali lagi.

This, exactly, is why being grown-up sucks.

Seorang anak kecil sama sekali tidak kesulitan membayangkan eksistensi sebuah jalan tol dari Malang ke Jakarta. Sementara kita, kita yang sudah tua dan kenyang pengalaman, kita menepis jauh-jauh keberadaan hal tersebut. Bagi kita itu absurd, aneh, tidak logis, tidak masuk akal. Belum apa-apa otak kita sudah membantah habis, menertawakan, meremehkan hal seperti itu.

Padahal coba dibayangkan: bukankah sangat menyenangkan kalau ada jalan tol seperti itu? Dari Malang langsung Jakarta. Tidak berbelit-belit. Lurus, lancar. Nyaman.

Dan aku sedikit takut. Semakin aku beranjak tua, sudah berapa hal yang kutepis jauh-jauh, belum-belum sudah kutolak, kuanggap tidak mungkin, kucap absurd?

Hal-hal menarik mana, kemungkinan-kemungkinan di luar dugaan apa yang selama ini kuabaikan dan kutertawakan? Padahal Einstein memperoleh ilham relativitas karena dia bisa dengan santainya, dengan sedemikian anak kecilnya bersedia menerima kemungkinan bahwa waktu itu tidak mutlak. Sementara ilmuwan lainnya, dengan otak yang dewasa dan berpengalaman, sedari awal sudah mengabaikan kemungkinan itu.

Absurd, katanya. Tidak logis.

Written by Hafiz

Maret 2, 2009 at 9:44 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Kisah, Refleksi