Paralel.
Masa kecil adalah saat-saat yang sering menorehkan kesan dan kenangan yang tidak bisa hilang. Kadang-kadang aku sering menyesali kata-kata atau tindakan ke adik-adikku sendiri karena aku tak sungguh-sungguh yakin mana dari aku yang mereka lupakan dan yang mereka bawa sampai nanti dewasa.
Berbicara tentang kenangan, ada satu yang masih tercatat erat di dalam kepalaku. Taman Kanak-kanak. Waktu istirahat, seingatku, adalah masa-masa di mana ayunan di halaman depan sekolahku menjadi satu benda yang paling banyak diperebutkan. Kami bergantian, terkadang berebut, mereka-mereka yang bernyali tinggi terkadang suka mendorong kencang-kencang ayunan itu untuk mengusir penghuni sementara yang bernyali tidak terlalu tinggi (aku, misalnya).
Dan di tengah aktivitas keramaian sehari-hari itu tiba-tiba terdengar suara jeritan anak di kejauhan. Uki, namanya. Seperti sekelompok kucing yang telinganya berdiri bersamaan mendengarkan sesuatu yang mencurigakan, kami semua tersentak, menoleh, lalu berduyun-duyun mendekat melihat apa yang terjadi.
Dibopong seorang guru berjilbab, aku melihat Uki di daerah deret keran air tempat kami biasa diajari berwudhu (sampai sekarang, aku masih berwudhu sambil membisikkan melodi urut-urutan gerakan yang diajarkan di TK itu: “Pertama mencuci tangan, kedua berkumur, ketiga membersihkan hidung…”).
Mataku terbelalak.
Darah. Darah mengucur deras di pelipisnya. Kali pertama aku melihat, menyadari, mengamati bahwa seorang manusia yang terluka dapat bersimbah darah seperti itu.
Tak berapa lama kuketahui, dia mendapat lemparan batu dari seorang teman, Sidharta namanya. Batu itu telak mengenai kepalanya. Dan untuk kali pertama aku mempelajari bahwa hal yang mengerikan bisa terjadi di usia semuda ini. Bahwa engkau bisa saja mati di usia semuda itu.
Setidaknya hingga aku duduk di bangku SMP, aku masih mengingat jelas kejadian ini. My first witnessing of a tragedy, if you will. Of a human suffering major physical pain.
Aku tumbuh dewasa. Ingatan datang dan pergi. Disimpan dan direpresi.
Lalu Facebook. Bertemu teman-teman lama, berbagi cerita yang juga lama. Dan entah bagaimana kisah TK itu dibahas lagi. Dari satu reka ingatan seorang teman:
aq inget waktu “accident”nya hafiz sama sidharta di restu… *g bisa comment*
Huh?
Aku tahu aku pelupa. Memoriku pendek. Pun otakku sedikit aneh: engkau bisa mengacung-acungkan HP-ku di tanganmu, tetapi jika aku yakin HP itu ada di meja, aku masih tetap akan pergi ke meja itu dan mencari-cari.
Tetapi tidak, tidak untuk ingatan yang itu. Not that one. Impossible. Aku membantah, tentu saja. Itu bukan aku. Uki.
Dan dia menjawab lagi:
hoh, iya ta? cz yg aq liat berdarah2 waktu itu kmu… baju olahraga jadi merah semua…
Bulu kudukku merinding. Aku berdiri dan berkaca.
Oh God.
Di dahiku, kiri, aku melihatnya.
Bekas luka.
Dory oh Dory…
*haiyyah, aku lo podo ae*
RukmaPratista
Maret 28, 2009 at 4:16 pm
hmmm…namanya juga anak-anak. tapi misal kebawa sampe dewasa, emmm…bisa jadi punya kepribadian ganda. (berlebihan nggk sih?hehe)
Kiki
Maret 29, 2009 at 10:21 am
Aih, serius Fiz? Kaya Yojimbo Effect gitu…
Nindya
Mei 14, 2009 at 5:27 pm
keren fiz..serasa kayak baca novel misteri..hiiii
jhe
Agustus 21, 2009 at 1:58 pm