The Fardreamer

In loving memory of all the dreams.

Archive for the ‘Absurd’ Category

Segitiga.

with one comment

Di dalam bahasa Inggris,

“Paired” itu dibaca “peered”,

“peered” itu dibaca “pired”,

“pired” itu dibaca “paired”.

Talk about sakkarepe dhewe.

Written by Hafiz

April 1, 2009 at 9:30 am

Ditulis dalam Absurd

Kostum.

without comments

Dari bermacam poster baliho caleg yang mengotori kotamu dan kotaku juga, coba hitung berapa yang dari mereka berpenampilan seperti seorang rakyat.

Coba kamu amati. Jas. Kopiah. Kumis (ada yang ingat “jok, lali, coblos kumise!“?) Make up seperti mau berangkat kondangan. Alis palsu. Bedak tebal. Gincu. Fotografi bikinan studio beneran.

Coba.

Dari awal pun mereka sudah berjualan tampilan seperti apa kira-kira mereka nanti kalau sudah memimpin. Kalau sudah jadi bos. Kalau sudah mengkilap. Kalau kata Emha, orang-orang seperti inilah yang nantinya akan selalu berusaha merakyat.

Iya, merakyat. Mereka tidak pernah benar-benar tahu rasanya menjadi rakyat, tidak sungguh-sungguh menjadi bagian dari rakyat, sehingga harus melakukan aktivitas merakyat. Seolah-olah menjadi rakyat. Supaya awet menjabat. Supaya lancar upeti dan sesaji-sesaji.

Padahal pemimpin yang benar itu tidak butuh merakyat. Iya kan? Ngapain juga harus merakyat kalau dari awal dia memang adalah rakyat?

Written by Hafiz

Maret 9, 2009 at 1:17 pm

Ditulis dalam Absurd, Bangsa

Gelar.

with 9 comments

Hidup sebagai manusia di Indonesia adalah kehidupan yang tidak mudah, terlebih dengan persaingan yang sangat ketat antara para pemegang gelar pendidikan. Di negeri ini, gelar undergraduate saja adalah aset, dan di mana engkau berada seyogyanya dua, tiga huruf akronim itu tak lupa disematkan sesudah atau sebelum namamu. Apalagi kalau gelar yang berbau-bau asing.

Hal ini membuat persaingan semakin berat bagi rakyat jelata yang belum beruntung karena taraf pendidikannya masih sekedar memberi ilmu dan bukan memberi gelar. Tapi sudah cukup! Hari ini juga, masalah itu terselesaikan.

Memperkenalkan: gelar BB.,Sb.!

BB.,Sb. adalah gelar yang spesial. Berikut poin-poin penting mengenai gelar luhur ini:

  • BB.,Sb. adalah kependekan dari Bukan Berarti Saya Bodoh. Ini adalah ungkapan yang mulia, menjunjung harkat dan martabat tiap penyandangnya. Selain itu, dalam penulisan gelar kata “Bodoh” disingkat menggunakan “b” kecil, menandakan bahwa kebodohan adalah sesuatu yang harus selalu diperkecil dan diminimalisir.
  • BB.,Sb. didesain untuk tampak seperti dua gelar yang terpisah. Hal ini untuk mempersiapkan pemegangnya bahwa dalam menghadapi persaingan di dunia nyata, more is always better.
  • Gelar ini gratis dan boleh dipakai siapa saja. Hal ini selaras dengan cita-cita luhur menurunkan biaya pendidikan di Indonesia tercinta ini, karena gelar ini dapat diperoleh dengan harga spesial: nol Rupiah. Selain itu, BB.,Sb. menghargai sepenuhnya bahwa pendidikan adalah hak setiap rakyat, sehingga ia boleh dipakai dan diklaim oleh siapapun, tanpa terkecuali.
  • Gelar ini bersifat open source, dan diberi lisensi WTFPL (The Do What The Fuck You Want To Public License). Hal ini berarti bahwa siapapun berhak melakukan apapun untuk mengkopi, distribusi, maupun memodifikasi gelar ini. Barangkali kamu ingin mengubah kepanjangan dari gelar ini menjadi “Bachelor of Bullshitting, Superior Bullshittery“? Silahkan!

Setelah memahami kelebihan dari gelar ini, berikut adalah contoh penggunaan gelar:

  • Scrooge McDuck, BB.,Sb. : Ini adalah penggunaan yang paling umum, gelar diletakkan setelah nama.
  • BB.,Sb., Scrooge McDuck : Untuk mereka yang berjiwa petualang, dapat pula meletakkan gelar ini di depan. Hal ini dapat pula dilakukan oleh mereka yang kiranya akan menghadapi persaingan yang lebih berat. Seperti telah diketahui secara umum, gelar yang berada di depan nama memiliki bobot yang jauh lebih tinggi. Dengan pola seperti ini, nilai jual pemegang gelar akan meningkat setidaknya lima kali lipat.
  • BB., Scrooge McDuck, Sb. : Dengan sedikit kreativitas, seseorang dapat pula melakukan hal ini. Ini mengesankan bahwa pemegang gelar memiliki bidang minat yang luas dan beragam. Selain itu, gelar yang mengapit nama memberi wibawa tersendiri yang sulit ditandingi.
  • BB., H. Scrooge McDuck, Sb. : Apabila pemegang gelar juga memiliki gelar Haji, maka bentuk ini sangat tidak dianjurkan untuk dilakukan. Hal ini karena pembacaan langsung dari nama lengkap pemegang akan menjadi “Bukan berarti Haji…”, yang tentu saja adalah hal yang merugikan bagi image pemegang gelar itu sendiri.

Jadi, tunggu apa lagi? Setiap rakyat Indonesia dianjurkan untuk segera memegang gelar ini. Kabari teman-teman anda, sanak saudara semuanya!

BB.,Sb., menyamaratakan tingkat persaingan hidup dan kerja di Indonesia sejak 2009.

Selamat menggelari diri sendiri.
5 Maret 2009

Hafiz, BB., Sb.

Written by Hafiz

Maret 5, 2009 at 12:34 pm

Ditulis dalam Absurd

Birokrasi.

with 2 comments

Ayo kita berdiskusi.

Bagaimanakah cara yang Islami untuk menghadapi birokrasi yang berbelit-belit?

Kemungkinan skenario yang bisa kupikirkan:

  1. Jalani saja. Semua orang juga mengalaminya. Semua orang juga menderita hal yang sama.
  2. Jadilah kaya, jadilah kuat, lalu gunakan kekayaan dan kekuatan itu untuk mempermulus persoalan yang berbelit.
  3. Jangan ikuti birokrasi sama sekali. Be free.

Untuk poin pertama, ini adalah hal yang sering dikemukakan orang kalau sudah kehabisan alasan yang logis untuk mempertahankan suatu kebiasaan yang buruk. Ospek, misalnya. Sudahlah kamu ikuti saja. Saya dulu menderita, sekarang giliran kamu. It doesn’t solve any problems.

Poin kedua, mau tidak mau harus diakui bahwa di dunia ini kemudahan datang pada orang-orang yang kaya dan kuat. Tidak adil, tetapi dunia bukan tempat yang adil. Jujur saja kalau aku kaya, aku lebih pilih suap mereka semua daripada mengikuti prosedur yang berbelit dan membuang-buang waktu, tenaga, pikiran. Kalau Tuhan menuntutku karena suap itu, biar kutunjukkan pada Dia bahwa hanya dengan cara itu aku mendapatkan hakku, hak beroleh service yang selayaknya. Bahwa merekalah pemicu aku melakukan semua itu. Jika tidak ada yang berbelit, tentu tidak ada alasan untuk suap dan semua itu.

Poin ketiga, berbelitnya birokrasi adalah pertanda sistem yang rusak, bukan? Dan sistem yang rusak tidak perlu diikuti. Ya, barangkali lalu ada yang bertanya, “kamu sendiri apa kontribusimu untuk memperbaiki sistem?” Tetapi rasa-rasanya sudah cukup banyak bantahan untuk pertanyaan itu. Yang dibahas di sini adalah, jika dia rusak, tinggalkan saja. Be free. Jangan ikuti sistemnya.

Rasa-rasanya tidak ada jawaban yang memuaskan. Bagaimana menurutmu?

Written by Hafiz

Februari 26, 2009 at 6:00 pm

Ditulis dalam Absurd

Hilang.

without comments

Kasus ini terjadi berkali-kali:

“Bosen ah lagu yang ini, skip ah.”

Satu menit. Dua menit. Tiga menit.

Kursor berputar-putar tak menentu.

Winamp-ku kok ngilang gini sih?

Noleh.

Oh.

Ternyata dengerin mp3 dari hape.

Written by Hafiz

Februari 24, 2009 at 5:21 pm

Ditulis dalam Absurd

Ironis.

with 9 comments

Aku ini mencari titel sarjana komputer.

Tetapi lembaga yang sedianya memberi titel itu lucunya tidak becus komputer. Hari ini aku bayar SPP dan dengan melakukan itu maka otomatis dibuka lagi hakku untuk mengisi KRS, Kartu Rencana Studi, secara online.

Seharusnya.

Tetapi faktanya, baru besok aku bisa mengisi kartu itu.

Maaf, bukankah ini tahun 2009? Bukankah aku mau mengirim informasi dari sini ke belahan manapun di dunia lewat jaringan internet butuh kurang dari satu detik? Dan bukankah engkau sendiri yang memberi dia nama KRS ONLINE? ON-fucking-LINE?!

Lalu kenapa perlu satu hari cuma untuk verifikasi?

Dan apapun pembelaan dirimu soal ini, aku sudah sebelas semester tanpa mengalami delay seperti ini. Sebelas semester. Semakin lama, sistem bukan semakin baik, tapi memburuk.

Dari lembaga semacam ini aku mencari titel sarjana komputer.

Untuk mengumpulkan KRS, mahasiswa diminta mengumpulkan KHS, Kartu Hasil Studi semester kemarin. Logis. Maka ketika waktu KRS dimulai, KHS-KHS itu sudah sepatutnya diberikan pada mahasiswa. Ini juga logis.

Lalu kenapa hari ini, minggu kedua proses pendaftaran KRS berjalan, KHS kami semua tidak ada? Kenapa kami harus membuat surat nota yang ditanda tangani dosen pembimbing akademik yang menyatakan kami belum menerima KHS, hanya untuk mengambil KHS?

Bukankah KHS itu sudah dari sananya sudah pada fitrahnya diserahkan pada kami ketika KRS berjalan? Apa maksudnya nota-nota itu? Jangan-jangan nanti kami mau masuk ruang pengajaran perlu membuat nota pernyataan bahwa kami saat ini masih belum berada di ruang pengajaran dan ada kepentingan untuk masuk ke dalam?

What kind of god damn logic is that?

Dan dari lembaga semacam ini aku mencari titel sarjana komputer.

Lembaga tidak becus semacam ini.

Sebelum kamu bertanya kenapa menyelesaikan studi ini aku membutuhkan waktu begini lama, coba baca lagi dari paragraf pertama.

Written by Hafiz

Februari 10, 2009 at 5:21 pm

Ditulis dalam Absurd, Kisah

Bebal.

with one comment

Ada satu kata yang selalu bisa membuat darahku menggelegak seketika.

Ospek.

Rektor-rektor yang mengizinkan ospek terjadi di kampusnya, dengan segala kekerasan verbal, fisik, dan semuanya itu, kalian semua sampah. Berderet titel dan toga kebesaranmu itu? Tong sampah. Tinggi menjulang gedung rektoratmu itu? TPS, Tempat Pembuangan Sampah.

Senior-senior yang minta dihormati, membikin-bikin area sendiri dengan tulisan “Area Bebas Maba”, memasang tampang garang padahal sehari-hari mengemis-ngemis ke orang tua karena uang makan habis dan uang kos nunggak habis dipakai beli rokok, main PS, manusia macam apa kalian ini?

Kalian beranggapan bahwa semua itu adalah untuk menguatkan mental pesertanya.

Oke.

Kabari aku kalau nanti anakmu usia lima tahun. Biar kubentak kucerca dia keras-keras dan kuhajar dia dengan tangan dan kakiku. Supaya kuat mentalnya.

Kabari aku kalau nanti anakmu usia sepuluh tahun. Biar kubentak kucerca dia keras-keras dan kuhajar dia dengan tangan dan kakiku. Supaya kuat mentalnya.

Kabari aku kalau nanti anakmu usia lima belas tahun. Biar kubentak kucerca dia keras-keras dan kuhajar dia dengan tangan dan kakiku. Supaya kuat mentalnya.

Kabari aku kalau nanti anakmu usia dua puluh tahun. Biar kubentak kucerca dia keras-keras dan kuhajar dia dengan tangan dan kakiku. Supaya kuat mentalnya.

Kabari aku kalau nanti anakmu usia dua puluh lima tahun. Biar kubentak kucerca dia keras-keras dan kuhajar dia dengan tangan dan kakiku. Supaya kuat mentalnya.

Do those make any fucking sense to you? Kenapa begitu susah sekali memahami hal sejelas segampang ini?

Dan lebih mengenaskan lagi adalah ritual pemujaan setan semacam ini (ya, ini ritual pemujaan setan) terjadi di lembaga pendidikan. Pendidikan.

Ya Tuhan. Aku hidup di negara di mana lembaga pendidikan adalah pusat pusaran hal-hal goblok yang dilestarikan.

Written by Hafiz

Februari 9, 2009 at 1:38 pm

Ditulis dalam Absurd

Kakus.

with 4 comments

Hari ini tulisanku dibajak. Dulu juga pernah.

Lucu-lucu orang-orang ini.

Written by Hafiz

Februari 3, 2009 at 9:43 am

Ditulis dalam Absurd, Kisah

Lacur.

without comments

Memangnya siapa kamu berani memasang foto, angka, dan janji-janji di depan pohon-pohon, taman, dan pagar pembatas jalan?

Kamu pikir dengan kostummu yang kedodoran dan make-up pas-pasan dan ekspresi muka tidak jujur seperti itu, sekalipun juga ditambahi gambar pembesar paling puncak partaimu di latar belakang, kamu bisa meraih perhatian, respek dan mendapat tempat di ingatanku?

Pelacur saja jual diri tak sampai merusak keindahan kota seperti ini. Kalau boleh tahu, berapa per jam kamu pasang tarif?

Update: Pengeluaran biaya kampanye parpol dan pemerintah di tahun 2008 mencapai 2.2 triliun. Jadi kalau nanti sudah menjabat lalu cepat-cepat mengais-ngais apa saja supaya cepat balik modal, jangan kaget.

Written by Hafiz

Januari 31, 2009 at 12:32 pm

Ditulis dalam Absurd, Bangsa

Bendera.

with one comment

Bendera-bendera membingungkanku. Terutama bendera-bendera kecilmu, satu warna berderet-deret dari ujung jalan sana hingga ujung yang lain. Apa yang kamu mau dengan bendera-bendera itu? Apakah kamu berharap ada orang melihat dan berpikir, “oh, partai yang bisa memajang bendera sebanyak ini pastilah partai yang peduli pada bangsa dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk memajukan Indonesia, dan karenanya aku harus memilih dia pemilu nanti”?

Ataukah kamu ingin para penduduk kota ini beranggapan bahwa wilayah jalan tadi telah menjadi daerah kekuasaan partai ini sehingga mereka semua segan dan hormat pada lambang yang tertera pada bendera-bendera itu?

Atau sebenarnya ini semua karena kebetulan pimpinan partaimu ingin berkunjung dari singgasananya di atas langit sana menuju kota kecil ini dan untuk itu kamu perlu sediakan dia hiburan sedemikian rupa termasuk pula lambaian-lambaian manja bendera-bendera berderet itu?

Bendera-benderamu membingungkanku. Sungguh.

Written by Hafiz

Januari 20, 2009 at 2:28 pm

Ditulis dalam Absurd, Bangsa