Archive for the ‘Bangsa’ Category
Kostum.
Dari bermacam poster baliho caleg yang mengotori kotamu dan kotaku juga, coba hitung berapa yang dari mereka berpenampilan seperti seorang rakyat.

Coba kamu amati. Jas. Kopiah. Kumis (ada yang ingat “jok, lali, coblos kumise!“?) Make up seperti mau berangkat kondangan. Alis palsu. Bedak tebal. Gincu. Fotografi bikinan studio beneran.
Coba.
Dari awal pun mereka sudah berjualan tampilan seperti apa kira-kira mereka nanti kalau sudah memimpin. Kalau sudah jadi bos. Kalau sudah mengkilap. Kalau kata Emha, orang-orang seperti inilah yang nantinya akan selalu berusaha merakyat.
Iya, merakyat. Mereka tidak pernah benar-benar tahu rasanya menjadi rakyat, tidak sungguh-sungguh menjadi bagian dari rakyat, sehingga harus melakukan aktivitas merakyat. Seolah-olah menjadi rakyat. Supaya awet menjabat. Supaya lancar upeti dan sesaji-sesaji.
Padahal pemimpin yang benar itu tidak butuh merakyat. Iya kan? Ngapain juga harus merakyat kalau dari awal dia memang adalah rakyat?
Lacur.
Memangnya siapa kamu berani memasang foto, angka, dan janji-janji di depan pohon-pohon, taman, dan pagar pembatas jalan?
Kamu pikir dengan kostummu yang kedodoran dan make-up pas-pasan dan ekspresi muka tidak jujur seperti itu, sekalipun juga ditambahi gambar pembesar paling puncak partaimu di latar belakang, kamu bisa meraih perhatian, respek dan mendapat tempat di ingatanku?
Pelacur saja jual diri tak sampai merusak keindahan kota seperti ini. Kalau boleh tahu, berapa per jam kamu pasang tarif?
Update: Pengeluaran biaya kampanye parpol dan pemerintah di tahun 2008 mencapai 2.2 triliun. Jadi kalau nanti sudah menjabat lalu cepat-cepat mengais-ngais apa saja supaya cepat balik modal, jangan kaget.
Bendera.
Bendera-bendera membingungkanku. Terutama bendera-bendera kecilmu, satu warna berderet-deret dari ujung jalan sana hingga ujung yang lain. Apa yang kamu mau dengan bendera-bendera itu? Apakah kamu berharap ada orang melihat dan berpikir, “oh, partai yang bisa memajang bendera sebanyak ini pastilah partai yang peduli pada bangsa dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk memajukan Indonesia, dan karenanya aku harus memilih dia pemilu nanti”?
Ataukah kamu ingin para penduduk kota ini beranggapan bahwa wilayah jalan tadi telah menjadi daerah kekuasaan partai ini sehingga mereka semua segan dan hormat pada lambang yang tertera pada bendera-bendera itu?
Atau sebenarnya ini semua karena kebetulan pimpinan partaimu ingin berkunjung dari singgasananya di atas langit sana menuju kota kecil ini dan untuk itu kamu perlu sediakan dia hiburan sedemikian rupa termasuk pula lambaian-lambaian manja bendera-bendera berderet itu?
Bendera-benderamu membingungkanku. Sungguh.
Pongah.
Aku sama sekali tidak bisa mengerti kenapa kalian harus gembar-gembor terus di televisi hanya karena wakil partaimu melakukan sesuatu yang memang sudah sedari dulu menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
Iya, walaupun dia melakukannya tiga kali. Walaupun tidak pernah terjadi dalam sejarah sebelumnya.
Kamu pernah lihat tukang sampah menyombongkan diri, “aku membersihkan sampah sepanjang waktu…”?
Kamu pernah lihat tukang parkir berkoar, “aku membantu orang-orang mengatur kendaraannya keluar masuk toko ini…”?
Merdeka.
Dalam benakku, hal yang seringkali menghalangi perjuangan orang-orang yang hendak membenahi bangsa ini adalah betapa keadaan telah sedemikian buruknya hingga orang-orang itu sehari-harinya harus jatuh bangun untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan tak lagi punya sisa tenaga untuk upaya yang lainnya.
Jadi seperti ini. Untuk dapat melakukan sesuatu untuk bangsa ini, terlebih dahulu engkau harus bertahan hidup. Namun engkau selamanya akan terjebak dalam perjuangan bertahan hidup itu selama bangsa ini terus saja rusak dan merusakmu. Maka selamanya engkau tetap rusak, selamanya bangsa ini tetap rusak.
Permasalahan telur dan ayam.
Solusinya?
Entahlah, tapi nampaknya engkau harus lebih dahulu merdeka dari bangsa ini sebelum bisa berbuat lebih banyak. Merdekalah dari Indonesia. Lepaskan dirimu dari segala jerat dan kepenatannya, kalahkan dia, jadilah lebih besar dari Indonesia, hiduplah di luar bayang-bayang kekuasaannya atasmu, dan terbanglah jauh sejauh-jauhnya.
Baru setelah kekuatan itu kau peroleh, engkau bisa kembali kemari untuk menyelamatkan saudara-saudaramu yang sesaat kau tinggalkan.
Mungkin begitu?
Sejati.
The Indonesians were, in a sense, Africa’s Vikings. They brought with them important new plants, new forms of music, new diseases, new technologies, new arts, new ways of predicting events, and other lasting facets of culture.
Phantom Voyagers adalah buku baru bapakku, yang dari situ beliau minta kubukakan situsnya dan akhirnya aku ikut baca dan tahu.
Bahwa sebenarnya bangsa kita-lah sanggup lebih dulu sampai di Afrika sebelum orang-orang Eropa dan Arab, adalah satu lagi pembuktian firasatku bahwa bangsa Indonesia, sejatinya, adalah orang-orang yang luar biasa kuat, para petualang dan penjelajah sejati.
Bisa kau bayangkan sendiri bangsa macam apa yang orang-orangnya sanggup berkelana entah berapa tahun lamanya, membelah separuh belahan bumi di atas perahu purba mereka, untuk kemudian menetap di sebuah tanah asing yang tak terkira jauhnya dari pertiwi mereka.
Dan ini bukan fiksi. Ini Indonesia. Bangsa kita sendiri.
Tidak tergetarkah hatimu?