The Fardreamer

In loving memory of all the dreams.

Archive for the ‘Inspirasi’ Category

Tol.

with 2 comments

Hari ini adikku dan sesama kelas 5 SD lainnya di sekolahnya berangkat study tour ke Jakarta. Tak berapa lama berangkat, dia SMS mengabarkan kalau bisnya sudah sampai di Lawang. Tak lama berselang, datang SMS lagi.

Sudah masuk tol ke Jakarta, katanya.

Tol ke Jakarta. Kami semua tertawa. Di kepalaku sudah terbayang, ini bisa jadi satu posting lucu yang baru di Fardreamer.

Lalu aku berpikir sekali lagi.

This, exactly, is why being grown-up sucks.

Seorang anak kecil sama sekali tidak kesulitan membayangkan eksistensi sebuah jalan tol dari Malang ke Jakarta. Sementara kita, kita yang sudah tua dan kenyang pengalaman, kita menepis jauh-jauh keberadaan hal tersebut. Bagi kita itu absurd, aneh, tidak logis, tidak masuk akal. Belum apa-apa otak kita sudah membantah habis, menertawakan, meremehkan hal seperti itu.

Padahal coba dibayangkan: bukankah sangat menyenangkan kalau ada jalan tol seperti itu? Dari Malang langsung Jakarta. Tidak berbelit-belit. Lurus, lancar. Nyaman.

Dan aku sedikit takut. Semakin aku beranjak tua, sudah berapa hal yang kutepis jauh-jauh, belum-belum sudah kutolak, kuanggap tidak mungkin, kucap absurd?

Hal-hal menarik mana, kemungkinan-kemungkinan di luar dugaan apa yang selama ini kuabaikan dan kutertawakan? Padahal Einstein memperoleh ilham relativitas karena dia bisa dengan santainya, dengan sedemikian anak kecilnya bersedia menerima kemungkinan bahwa waktu itu tidak mutlak. Sementara ilmuwan lainnya, dengan otak yang dewasa dan berpengalaman, sedari awal sudah mengabaikan kemungkinan itu.

Absurd, katanya. Tidak logis.

Written by Hafiz

Maret 2, 2009 at 9:44 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Kisah, Refleksi

Aktor.

without comments

Satu hal yang sering terjadi dalam pikiranku adalah mengenang kejadian-kejadian lama untuk kemudian berpikir, “wah, sayang di masa itu aku sama sekali tak menyadari bahwa sebenarnya aku tengah berada dalam satu arus kisah tersendiri, tengah menggoreskan memori, yang suatu hari nanti bisa dikenang dan ditertawakan sendiri dalam hati.”

Jadi saat ini kurubahpaksa pikiranku.

Sekarang kuyakinkan diriku bahwa saat ini pun aku sedang dalam pusaran cerita yang baru, sedang menyusun kenangan-kenangan lewat apapun yang kukerjakan. Sekarang aku menyadari: aku kembali menjadi aktor untuk cerita pendek kali ini. Dan kalian, kalian juga ada di sini. Kisahmu melintasi punyaku, bersilangan, campur aduk, larut melebur menjadi satu epik yang tak terjangkau pikiran pengetahuanku.

Aku sedikit tersenyum tiap menyadari ini.

Let’s put up a good show, folks.

Written by Hafiz

Januari 24, 2009 at 7:10 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Kisah, Refleksi

Hutang.

without comments

Words of wisdom:

It’s your life and those imagined obligations are the biggest and most pervasive fraud on the planet. You don’t owe anyone shit, and they don’t owe anything to you. Know what you value in your life, know what your personal boundaries are, and stick to them. I’m not saying you should leave your employer high-and-dry when they need you, but do NOT let an entity that would drown you in front of your own mother for a twopence make you their slave.

Written by Hafiz

Desember 29, 2008 at 1:10 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Kerja

Partikel.

with one comment

Deru air kecoklatan yang mengalir dari mesin cuci menuju pembuangan membuatku terdiam. Wow. Tercampur dalam air itu adalah debu-debu dan segala macam partikel yang kukumpulkan di stasiun kota, di Jakarta, di Cikarang, di Bandung. Di dalam Gajayana, busway, bis kota, di atas ojek, motor pinjaman, dan terakhir hampir 24 jam perjalanan pulang menumpang Kramat Djati. Mereka semua terkumpul menjadi satu pada baju-bajuku dan akhirnya harus menemui takdir selanjutnya mengalir di got kecil di pinggir satu jalan yang juga kecil di perumahan Sawojajar, Malang.

Dan bukankah atom-atom yang sekarang menyusun tubuhku ini dulunya barangkali menyusun tubuh manusia yang lain, bisa juga bebatuan, atau mungkin seekor pterodactyl, dan hampir pasti jauh sebelumnya mereka bergolak bersama dengan atom-atom di tubuhmu di dalam sebuah bintang besar yang menyala pijar?

Menakjubkan.

Written by Hafiz

Desember 17, 2008 at 7:45 am

Ditulis dalam Inspirasi

Blackbeard.

with 2 comments

Aku ingin jadi seperti Blackbeard.

Ah, ya, tentu saja. Bukan itu nama aslinya. Tetapi aku memanggilnya Blackbeard, karena tak ada yang lebih mengingatkanku kepadanya selain tokoh itu. Fisiknya lebih atletis daripada Blackbeard yang asli, tipikal seorang sopir bus malam yang tentulah terbiasa kerja berat tiap hari. Tetapi yang paling berkesan bagiku adalah tawanya.

Blackbeard, salah satu sopir pengemudi Kramat Djati yang membawaku dari Bandung ke Malang minggu kemarin, adalah sosok yang tak pernah kehilangan senyum dan tawanya sepanjang perjalanan.

Bahwa jalan alternatif yang diinformasikan oleh sopir bus lainnya ternyata jauh lebih macet dan tak mungkin bisa memutar balik lagi, dia tertawa.

Bahwa sopir sebuah truk yang melintas memakinya karena berebut jalan, dia tertawa.

Bahwa dia harus menyetir tiga, empat, lima jam lebih lama karena jalan luar biasa padat, dia hanya tertawa.

Dalam benakku, tampaknya tak ada satupun yang bisa menyusahkan hatinya. Apapun yang terjadi, tampaknya ia selalu tersenyum, tertawa, bercanda dengan rekan-rekan dan penumpangnya. Dan aku cukup yakin tawanya bukan topeng, bukan sekedar pelarian beban di hatinya.

Tetapi dia sungguh-sungguh tertawa.

Bahwa itu sungguh-sungguh tawa seseorang yang cobaan hidup dan berbagai masalah sama sekali tak bisa menyentuhnya. Bahwa itu sungguh-sungguh tawa seseorang yang tak ambil pusing dengan sedemikian tidak pentingnya dunia.

Aku ingin jadi seperti Blackbeard.

Zehahahahahahaha!

Written by Hafiz

Desember 13, 2008 at 5:41 am

Ditulis dalam Inspirasi, Kisah

Saujana

without comments

Saujana adalah kata bahasa Indonesia yang paling aku suka. Dan malam ini aku tak bisa membiarkannya lepas dan berlalu.

sau.ja.na n, — mata (memandang) sejauh mata memandang; sepemandang mata jauhnya.

Written by Hafiz

Oktober 30, 2008 at 3:41 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Kisah

Arena.

without comments

It is not the critic who counts; not the man who points out how the strong man stumbles, or where the doer of deeds could have done them better. The credit belongs to the man who is actually in the arena, whose face is marred by dust and sweat and blood; who strives valiantly; who errs, who comes short again and again, because there is no effort without error and shortcoming; but who does actually strive to do the deeds; who knows great enthusiasms, the great devotions; who spends himself in a worthy cause; who at the best knows in the end the triumph of high achievement, and who at the worst, if he fails, at least fails while daring greatly, so that his place shall never be with those cold and timid souls who neither know victory nor defeat.

Theodore Roosevelt, The Man in the Arena.

Written by Hafiz

Juli 20, 2008 at 4:02 am

Ditulis dalam Inspirasi