The Fardreamer

In loving memory of all the dreams.

Archive for the ‘Kisah’ Category

Paralel.

with 4 comments

Masa kecil adalah saat-saat yang sering menorehkan kesan dan kenangan yang tidak bisa hilang. Kadang-kadang aku sering menyesali kata-kata atau tindakan ke adik-adikku sendiri karena aku tak sungguh-sungguh yakin mana dari aku yang mereka lupakan dan yang mereka bawa sampai nanti dewasa.

Berbicara tentang kenangan, ada satu yang masih tercatat erat di dalam kepalaku. Taman Kanak-kanak. Waktu istirahat, seingatku, adalah masa-masa di mana ayunan di halaman depan sekolahku menjadi satu benda yang paling banyak diperebutkan. Kami bergantian, terkadang berebut, mereka-mereka yang bernyali tinggi terkadang suka mendorong kencang-kencang ayunan itu untuk mengusir penghuni sementara yang bernyali tidak terlalu tinggi (aku, misalnya).

Dan di tengah aktivitas keramaian sehari-hari itu tiba-tiba terdengar suara jeritan anak di kejauhan. Uki, namanya. Seperti sekelompok kucing yang telinganya berdiri bersamaan mendengarkan sesuatu yang mencurigakan, kami semua tersentak, menoleh, lalu berduyun-duyun mendekat melihat apa yang terjadi.

Dibopong seorang guru berjilbab, aku melihat Uki di daerah deret keran air tempat kami biasa diajari berwudhu (sampai sekarang, aku masih berwudhu sambil membisikkan melodi urut-urutan gerakan yang diajarkan di TK itu: “Pertama mencuci tangan, kedua berkumur, ketiga membersihkan hidung…”).

Mataku terbelalak.

Darah. Darah mengucur deras di pelipisnya. Kali pertama aku melihat, menyadari, mengamati bahwa seorang manusia yang terluka dapat bersimbah darah seperti itu.

Tak berapa lama kuketahui, dia mendapat lemparan batu dari seorang teman, Sidharta namanya. Batu itu telak mengenai kepalanya. Dan untuk kali pertama aku mempelajari bahwa hal yang mengerikan bisa terjadi di usia semuda ini. Bahwa engkau bisa saja mati di usia semuda itu.

Setidaknya hingga aku duduk di bangku SMP, aku masih mengingat jelas kejadian ini. My first witnessing of a tragedy, if you will. Of a human suffering major physical pain.

Aku tumbuh dewasa. Ingatan datang dan pergi. Disimpan dan direpresi.

Lalu Facebook. Bertemu teman-teman lama, berbagi cerita yang juga lama. Dan entah bagaimana kisah TK itu dibahas lagi. Dari satu reka ingatan seorang teman:

aq inget waktu “accident”nya hafiz sama sidharta di restu… *g bisa comment*

Huh?

Aku tahu aku pelupa. Memoriku pendek. Pun otakku sedikit aneh: engkau bisa mengacung-acungkan HP-ku di tanganmu, tetapi jika aku yakin HP itu ada di meja, aku masih tetap akan pergi ke meja itu dan mencari-cari.

Tetapi tidak, tidak untuk ingatan yang itu. Not that one. Impossible. Aku membantah, tentu saja. Itu bukan aku. Uki.

Dan dia menjawab lagi:

hoh, iya ta? cz yg aq liat berdarah2 waktu itu kmu… baju olahraga jadi merah semua…

Bulu kudukku merinding. Aku berdiri dan berkaca.

Oh God.

Di dahiku, kiri, aku melihatnya.

Bekas luka.

Written by Hafiz

Maret 28, 2009 at 8:39 am

Ditulis dalam Kisah

Tol.

with 2 comments

Hari ini adikku dan sesama kelas 5 SD lainnya di sekolahnya berangkat study tour ke Jakarta. Tak berapa lama berangkat, dia SMS mengabarkan kalau bisnya sudah sampai di Lawang. Tak lama berselang, datang SMS lagi.

Sudah masuk tol ke Jakarta, katanya.

Tol ke Jakarta. Kami semua tertawa. Di kepalaku sudah terbayang, ini bisa jadi satu posting lucu yang baru di Fardreamer.

Lalu aku berpikir sekali lagi.

This, exactly, is why being grown-up sucks.

Seorang anak kecil sama sekali tidak kesulitan membayangkan eksistensi sebuah jalan tol dari Malang ke Jakarta. Sementara kita, kita yang sudah tua dan kenyang pengalaman, kita menepis jauh-jauh keberadaan hal tersebut. Bagi kita itu absurd, aneh, tidak logis, tidak masuk akal. Belum apa-apa otak kita sudah membantah habis, menertawakan, meremehkan hal seperti itu.

Padahal coba dibayangkan: bukankah sangat menyenangkan kalau ada jalan tol seperti itu? Dari Malang langsung Jakarta. Tidak berbelit-belit. Lurus, lancar. Nyaman.

Dan aku sedikit takut. Semakin aku beranjak tua, sudah berapa hal yang kutepis jauh-jauh, belum-belum sudah kutolak, kuanggap tidak mungkin, kucap absurd?

Hal-hal menarik mana, kemungkinan-kemungkinan di luar dugaan apa yang selama ini kuabaikan dan kutertawakan? Padahal Einstein memperoleh ilham relativitas karena dia bisa dengan santainya, dengan sedemikian anak kecilnya bersedia menerima kemungkinan bahwa waktu itu tidak mutlak. Sementara ilmuwan lainnya, dengan otak yang dewasa dan berpengalaman, sedari awal sudah mengabaikan kemungkinan itu.

Absurd, katanya. Tidak logis.

Written by Hafiz

Maret 2, 2009 at 9:44 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Kisah, Refleksi

Avatar.

with 2 comments

bagus ngejak gelut

Avatar YM ngejak gelut yo ngene iki.

Written by Hafiz

Februari 13, 2009 at 6:43 pm

Ditulis dalam Kisah

Ironis.

with 9 comments

Aku ini mencari titel sarjana komputer.

Tetapi lembaga yang sedianya memberi titel itu lucunya tidak becus komputer. Hari ini aku bayar SPP dan dengan melakukan itu maka otomatis dibuka lagi hakku untuk mengisi KRS, Kartu Rencana Studi, secara online.

Seharusnya.

Tetapi faktanya, baru besok aku bisa mengisi kartu itu.

Maaf, bukankah ini tahun 2009? Bukankah aku mau mengirim informasi dari sini ke belahan manapun di dunia lewat jaringan internet butuh kurang dari satu detik? Dan bukankah engkau sendiri yang memberi dia nama KRS ONLINE? ON-fucking-LINE?!

Lalu kenapa perlu satu hari cuma untuk verifikasi?

Dan apapun pembelaan dirimu soal ini, aku sudah sebelas semester tanpa mengalami delay seperti ini. Sebelas semester. Semakin lama, sistem bukan semakin baik, tapi memburuk.

Dari lembaga semacam ini aku mencari titel sarjana komputer.

Untuk mengumpulkan KRS, mahasiswa diminta mengumpulkan KHS, Kartu Hasil Studi semester kemarin. Logis. Maka ketika waktu KRS dimulai, KHS-KHS itu sudah sepatutnya diberikan pada mahasiswa. Ini juga logis.

Lalu kenapa hari ini, minggu kedua proses pendaftaran KRS berjalan, KHS kami semua tidak ada? Kenapa kami harus membuat surat nota yang ditanda tangani dosen pembimbing akademik yang menyatakan kami belum menerima KHS, hanya untuk mengambil KHS?

Bukankah KHS itu sudah dari sananya sudah pada fitrahnya diserahkan pada kami ketika KRS berjalan? Apa maksudnya nota-nota itu? Jangan-jangan nanti kami mau masuk ruang pengajaran perlu membuat nota pernyataan bahwa kami saat ini masih belum berada di ruang pengajaran dan ada kepentingan untuk masuk ke dalam?

What kind of god damn logic is that?

Dan dari lembaga semacam ini aku mencari titel sarjana komputer.

Lembaga tidak becus semacam ini.

Sebelum kamu bertanya kenapa menyelesaikan studi ini aku membutuhkan waktu begini lama, coba baca lagi dari paragraf pertama.

Written by Hafiz

Februari 10, 2009 at 5:21 pm

Ditulis dalam Absurd, Kisah

Kakus.

with 4 comments

Hari ini tulisanku dibajak. Dulu juga pernah.

Lucu-lucu orang-orang ini.

Written by Hafiz

Februari 3, 2009 at 9:43 am

Ditulis dalam Absurd, Kisah

Vertigo.

with one comment

Semula berawal dari gerhana matahari cincin sore kemarin.

Aku tak ingin melihatnya. Tak ada rasa tertarik sedikitpun, tak ada niatan untuk tahu. Aku dengar beritanya dari koran dan televisi, mengerti bahwa toh di Surabaya (dan karenanya, seharusnya di Malang juga) gerhana ini hanya akan terlihat sebagian. Jadi pembicaraan dengan Rukma soal gerhana yang akan mulai terlihat di Bandung sana hanya kutanggapi sambil lalu.

Kemudian aku naik ke lantai dua.

Dan aku melihat ke arah langit. Sungguh, saat itu pun aku sama sekali tak ada keinginan melihat matahari berubah gelap. Hanya ingin tahu apa yang dilihat orang-orang di Malang yang masih juga penasaran dengan gerhana meski jelas-jelas tak bisa dilihat dari sini.

Seharian hujan berkali-kali mengguyur kota. Saat itu hujan tengah reda, tetapi mendung tebal masih menggantung di mana-mana. Dan itulah yang kulihat.

Awan. Awan yang bercahaya, sudah pasti karena matahari bersembunyi di baliknya.

Awalnya aku hanya melihat sebagian, tertutup atap di depan kamar adikku. Saat itu aku sudah merasakan silau yang cukup intens, mataku susah-payah berakomodasi dari suasana gelap di lantai bawah menuju langit yang terang benderang.

Dan aku dengan bodohnya melongok lebih jauh, ingin melihat awan itu secara penuh.

Dua detik. Cuma itu yang dibutuhkan.

Aku turun. Duduk di depan laptopku, memejamkan mata.

Dunia mulai bergerak.

Yang tentu saja tidak masuk akal karena aku duduk diam, mencoba mengenali rasa aneh di kepalaku, namun jelas-jelas tak bergerak sebanyak yang dilaporkan oleh syaraf-syarafku.

Aneh.

Jadi aku pergi ke kamar dan berbaring, telentang, menatap langit-langit.

Dan dia berputar. Berlawanan jarum jam, langit-langit kamarku berputar, terus-menerus. Logikaku berkata, that’s stupid, dan aku berulang meyakinkan otakku bahwa dia masih tetap di situ, tidak kemana-mana. Namun putarannya terus berjalan, makin cepat. Paradoks yang mengerikan, melihat sesuatu yang terus menerus bergerak sementara di dalam kepalaku aku seratus persen yakin dia tetap ada di situ, bergeser kecil pun tidak.

Aku tak bisa menahannya lebih lama, jadi kupejamkan mata.

Dan tubuhku mulai terasa berputar, bergulung-gulung seperti spiral, kali ini searah jarum jam.

Aku dalam masalah besar, pikirku dalam hati, sambil cepat-cepat bangun dan membuka halaman Wikipedia tentang Vertigo. Dari situ kucari lagi informasi lain tentang apa yang harus dilakukan saat mengalami vertigo.

Membuka situs-situs kesehatan saat mengalami vertigo menyadarkanku akan betapa buruknya desain user experience mereka. Bayangkan engkau sedang pusing, pandanganmu berputar-putar, dan engkau masih harus membaca satu artikel informasi yang demi meningkatkan pageview telah dibagi menjadi empat halaman, dan halaman pertama hanya berisi omong kosong tidak penting yang tak memberimu informasi apa-apa, dan dengan gusar engkau memburu link ke halaman berikutnya, yang karena hanya berupa angka “2″ dan si desainer tidak cukup pandai untuk memberi padding tambahan padanya, membuat target area untuk di-klik menjadi sangat kecil dan susah dicapai, dan, dan, dan…

…ahem.

Pada intinya, aku tidak berhasil menemukan informasi apapun. Jadi aku hanya duduk di lantai, diam, menundukkan kepala. Karena hanya dengan pose itu pusingnya sedikit berkurang. Aku ketakutan. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit.

Aku sempat berbincang lagi dengan Rukma saat aku mencari informasi di Wikipedia, dan dia bertanya apakah aku juga merasa ingin muntah, yang tampaknya adalah gejala umum dari vertigo. Aku bilang tidak. Saat itu aku memang tidak ingin muntah, jadi kupikir ini sekedar vertigo ringan yang segera akan hilang.

Aku muntah tiga puluh menit kemudian. Berulang-ulang hingga kerongkonganku terasa panas dan barangkali radangnya kambuh juga, entahlah.

Aku tidak sering muntah. Sepengalamanku, muntah biasanya membuat rasa demam yang menyertai jadi terasa lebih ringan. Tapi tidak dengan vertigo. Muntah atau tidak, sensasi gerakan-gerakan itu masih juga ada.

Dan di atas sofa aku tengkurap, memejamkan mata, waktu terasa berjam-jam lamanya. Di luar hujan mengganas. Aku tak tahu bagaimana cara bisa sampai di dokter. Hanya di posisi seperti ini aku bisa menahan pusingnya. Mengangkat leher sedikit, menoleh sebentar, duduk sesaat, dan vertigo itu datang kembali.

Menjelang tengah malam, setelah fase tidur-bangun dan kesadaran naik turun, setelah satu obat pusing, setelah dua kali dipijat oleh bapakku, vertigo berangsur meninggalkanku.

Pagi ini, aku sudah merasa baik. Alhamdulillah.

Aku tak pernah mengalami vertigo sebelumnya, dan kesan pertama kedatangannya padaku adalah sesuatu yang kuharap tak pernah terjadi lagi. Padaku dan pada kalian semua. It’s horrible. Gerakan-gerakan yang otakmu berkata palsu namun terus-menerus dilaporkan oleh pandangan mata dan indera-inderamu yang lain. Berbaring, salah satu reaksi pertama yang wajar dilakukan untuk membuatmu nyaman saat engkau tidak enak badan, justru berubah menjadi mengerikan dan memperparah rasa pusingnya. Vertigo memutarbalikkan semuanya.

Jadi semoga kita semua tetap sehat, sampai seterusnya. Jangan ada yang seperti ini lagi.

Amin.

Written by Hafiz

Januari 27, 2009 at 8:01 am

Ditulis dalam Kisah

Aktor.

without comments

Satu hal yang sering terjadi dalam pikiranku adalah mengenang kejadian-kejadian lama untuk kemudian berpikir, “wah, sayang di masa itu aku sama sekali tak menyadari bahwa sebenarnya aku tengah berada dalam satu arus kisah tersendiri, tengah menggoreskan memori, yang suatu hari nanti bisa dikenang dan ditertawakan sendiri dalam hati.”

Jadi saat ini kurubahpaksa pikiranku.

Sekarang kuyakinkan diriku bahwa saat ini pun aku sedang dalam pusaran cerita yang baru, sedang menyusun kenangan-kenangan lewat apapun yang kukerjakan. Sekarang aku menyadari: aku kembali menjadi aktor untuk cerita pendek kali ini. Dan kalian, kalian juga ada di sini. Kisahmu melintasi punyaku, bersilangan, campur aduk, larut melebur menjadi satu epik yang tak terjangkau pikiran pengetahuanku.

Aku sedikit tersenyum tiap menyadari ini.

Let’s put up a good show, folks.

Written by Hafiz

Januari 24, 2009 at 7:10 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Kisah, Refleksi

Memori.

with 6 comments

Dini hari ini aku terbangun, mendengarkan satu lagu (sengaja disembunyikan judulnya daripada dihujat kanan kiri), dan menyadari sesuatu.

I have memories.

Aku adalah seorang yang pelupa. Tetapi saat ini masih sangat terasa kesan-kesanku saat kemarin pergi ke Jakarta dan Bandung. Debar jantungku ketika bingung tak tahu arah. Ketika melihat hal-hal baru. Bahwa ternyata bepergian membuatku memiliki kenangan.

Hidupku sehari-hari adalah rentetan kegiatan motonon. Bangun. Buka laptop. Kerjakan semua aktivitas di situ: kerja, komunikasi, bermain, belajar. Lalu capek. Tidur. Tidak terlalu mengherankan, seharusnya, mengapa aku begitu pelupa. Otakku tidak menangkap satu apa yang cukup menarik untuk diingat-ingat.

Ah. Jadi setidaknya sekarang aku mengerti bahwa aku masih belum pikun, apalagi Alzheimer. Otakku sekedar tak cukup alasan menarik untuk mengingat banyak hal, itu saja.

Written by Hafiz

Januari 16, 2009 at 3:44 am

Ditulis dalam Kisah, Refleksi

Dudul.

with 7 comments

Noda putih di atas huruf O pada keyboard itu tak mau hilang-hilang juga. Kuas pembersih keyboard tidak mempan. Kutiup-tiup, kugosok dengan tisu, tak bergeming. Kukorek-korek dengan kuku telunjukku, dia tetap tak mau hilang. Apapun yang kulakukan, masih saja goresan aneh misterius itu tertempel di situ, putih menempel di ujung kanan bawah huruf O-nya.

Satu menit.

Lima menit.

Lalu aku tersadar.

Oh My God.

Ini.

Tombol.

Q.

(True story)

Written by Hafiz

Januari 7, 2009 at 10:41 am

Ditulis dalam Absurd, Kisah

Amuk.

with one comment

Malam ini kuambil hakku sebagai
manusia
untuk murka.

Malam ini lelaki terkutuk itu
mati.

MATI!

Written by Hafiz

Januari 5, 2009 at 7:22 pm

Ditulis dalam Kisah