Archive for the ‘Refleksi’ Category
Tol.
Hari ini adikku dan sesama kelas 5 SD lainnya di sekolahnya berangkat study tour ke Jakarta. Tak berapa lama berangkat, dia SMS mengabarkan kalau bisnya sudah sampai di Lawang. Tak lama berselang, datang SMS lagi.
Sudah masuk tol ke Jakarta, katanya.
Tol ke Jakarta. Kami semua tertawa. Di kepalaku sudah terbayang, ini bisa jadi satu posting lucu yang baru di Fardreamer.
Lalu aku berpikir sekali lagi.
This, exactly, is why being grown-up sucks.
Seorang anak kecil sama sekali tidak kesulitan membayangkan eksistensi sebuah jalan tol dari Malang ke Jakarta. Sementara kita, kita yang sudah tua dan kenyang pengalaman, kita menepis jauh-jauh keberadaan hal tersebut. Bagi kita itu absurd, aneh, tidak logis, tidak masuk akal. Belum apa-apa otak kita sudah membantah habis, menertawakan, meremehkan hal seperti itu.
Padahal coba dibayangkan: bukankah sangat menyenangkan kalau ada jalan tol seperti itu? Dari Malang langsung Jakarta. Tidak berbelit-belit. Lurus, lancar. Nyaman.
Dan aku sedikit takut. Semakin aku beranjak tua, sudah berapa hal yang kutepis jauh-jauh, belum-belum sudah kutolak, kuanggap tidak mungkin, kucap absurd?
Hal-hal menarik mana, kemungkinan-kemungkinan di luar dugaan apa yang selama ini kuabaikan dan kutertawakan? Padahal Einstein memperoleh ilham relativitas karena dia bisa dengan santainya, dengan sedemikian anak kecilnya bersedia menerima kemungkinan bahwa waktu itu tidak mutlak. Sementara ilmuwan lainnya, dengan otak yang dewasa dan berpengalaman, sedari awal sudah mengabaikan kemungkinan itu.
Absurd, katanya. Tidak logis.
Surat.
Tuhan,
Engkau tahu pasti aku ini ingin menjadi orang yang baik. Tetapi setiap hari aku membuat kesalahan-kesalahan yang implikasinya semakin menyadarkanku bahwa aku ini tidak bisa menjadi orang yang baik. Tentu saja tidak mungkin lagi buat mereka melihat bahwa aku ini di dalam hatiku ada keinginan menjadi baik, karena yang tampak dariku adalah kesalahan-kesalahan harianku itu.
Entah itu Engkau yang ganti menunjukkan kepada mereka, atau Engkau dengan KemahapandaianMu itu memberi jalan yang sama sekali tidak bisa kutemukan dalam cara berpikirku.
Sebentar lagi mereka akan datang dan berkata padaku jangan menyerah, jangan berpikir negatif, jangan berhenti, jangan merasa kalah, hanya pecundang yang jatuh dan tak berdiri lagi. Tolong juga tanamkan sedikit pengertian di hati mereka sebelum mereka terlanjur mengucapkan semua itu.
Aku ini hanya ingin bisa beribadah kepadamu. Tetapi entah itu aku yang mempersulit jalannya, mereka yang mempersulit jalannya, dunia ini yang mempersulit jalannya, atau Engkau yang mempersulit jalannya. Aku terlampau patah hati untuk memilih dan mencari tahu.
Hanya Engkau yang bisa menunjukkan padaku, hanya Engkau yang bisa menunjukkan pada mereka.
Segera, kalau aku boleh meminta.
Aktor.
Satu hal yang sering terjadi dalam pikiranku adalah mengenang kejadian-kejadian lama untuk kemudian berpikir, “wah, sayang di masa itu aku sama sekali tak menyadari bahwa sebenarnya aku tengah berada dalam satu arus kisah tersendiri, tengah menggoreskan memori, yang suatu hari nanti bisa dikenang dan ditertawakan sendiri dalam hati.”
Jadi saat ini kurubahpaksa pikiranku.
Sekarang kuyakinkan diriku bahwa saat ini pun aku sedang dalam pusaran cerita yang baru, sedang menyusun kenangan-kenangan lewat apapun yang kukerjakan. Sekarang aku menyadari: aku kembali menjadi aktor untuk cerita pendek kali ini. Dan kalian, kalian juga ada di sini. Kisahmu melintasi punyaku, bersilangan, campur aduk, larut melebur menjadi satu epik yang tak terjangkau pikiran pengetahuanku.
Aku sedikit tersenyum tiap menyadari ini.
Let’s put up a good show, folks.
Rival.
Hidup di tahun 2009 ada tidak enaknya juga, pikirku. Di usia dunia yang sudah setua ini, ada jauh terlalu banyak hal yang sanggup menyaingi dan melebihi apapun yang ingin kita buat.
Semua novel yang ingin kutulis sudah pernah dituliskan, dengan lebih baik. Semua sajak yang ingin kukarang sudah pernah dikarang, dengan lebih baik. Semua foto yang ingin kuambil, wah, tinggal mampir Flickr sebentar sudah cukup untuk sadar bahwa, ya, semua yang bisa dan tak bisa kubayangkan sudah pernah diambil. Pun dengan lebih baik dari yang aku bisa.
Inilah beratnya hidup di tahun 2009. Selama beberapa hari ke belakang aku sempat kehilangan selera untuk berkreasi apapun memikirkan ini semua. Untuk apa berkreasi kalau semua toh sudah pernah ada?
Lalu kemarin aku menemukan obatnya.
Jawabannya adalah bahwa ternyata semua hal yang hebat-hebat, yang luar biasa, yang sudah pernah ada itu, kemungkinan besar sama sekali tak terjamah olehmu. Oleh orang-orang yang peduli denganku. Bahwa sehebat apapun cerita, seindah apapun pemandangan yang sudah pernah ada, engkau mungkin belum sempat dan tak ada hasrat memahaminya. Adalah bahwa sebagian sangat besar dari semua rival itu sama saja tidak ada bagimu.
Sedangkan untuk karya-karyaku, (barangkali) engkau masih sedikit ingin tahu. Masih ingin membaca. Masih mau mendengarkan.
Jadi apapun yang kubuat nanti, sebiasa dan sesudahpernahdibuat apapun dia, masih ada harapan untuk bisa bermakna untukmu dan untukku sendiri.
Alright.
Back to making things, then.
Memori.
Dini hari ini aku terbangun, mendengarkan satu lagu (sengaja disembunyikan judulnya daripada dihujat kanan kiri), dan menyadari sesuatu.
I have memories.
Aku adalah seorang yang pelupa. Tetapi saat ini masih sangat terasa kesan-kesanku saat kemarin pergi ke Jakarta dan Bandung. Debar jantungku ketika bingung tak tahu arah. Ketika melihat hal-hal baru. Bahwa ternyata bepergian membuatku memiliki kenangan.
Hidupku sehari-hari adalah rentetan kegiatan motonon. Bangun. Buka laptop. Kerjakan semua aktivitas di situ: kerja, komunikasi, bermain, belajar. Lalu capek. Tidur. Tidak terlalu mengherankan, seharusnya, mengapa aku begitu pelupa. Otakku tidak menangkap satu apa yang cukup menarik untuk diingat-ingat.
Ah. Jadi setidaknya sekarang aku mengerti bahwa aku masih belum pikun, apalagi Alzheimer. Otakku sekedar tak cukup alasan menarik untuk mengingat banyak hal, itu saja.
Sempurna.
Nobody’s perfect,
and I am nobody.
Therefore I’m perfect.
Yeah, but you’re still nobody, hence your perfection does not mean a thing to anybody.
If a tree falls in a forest and no one is around to hear it, does it make a sound?
Pemerintah.
Dari namanya saja sudah salah.
Maka ya wajar saja kalau bisanya hanya mengatur-atur dan mintanya selalu dituruti.
Coba kalau namanya Penanggung jawab. Mungkin akan lain ceritanya.
Argumentasi.
Guru pendidikan Pancasila di kelasku, kelas 1C SMP Negeri 3 Malang, memberi kami sebuah persoalan prioritas tentang benda-benda apa yang paling dibutuhkan bagi seorang murid seperti kami. Semua benda telah terurut rapi kecuali untuk dua hal: tas dan sepatu.
Mana, menurutmu, yang lebih penting antara tas dan sepatu bagi seorang murid?
Aku berargumen kepadanya bahwa sebuah tas lebih utama, karena tas itu berguna melindungi buku-buku tempat ilmu itu tercatat dan tersimpan. Tanpa sebuah tas, buku-buku itu tentulah sulit dibawa, beresiko tercecer dan hilang di mana-mana.
Guruku berargumen bahwa sebuah sepatu lebih utama, karena peraturan sekolah telah mewajibkan murid-muridnya untuk bersepatu.
Dia menyalahkan jawabanku, dan sejak saat itu perlahan-lahan runtuh kepercayaanku terhadap sistem pendidikan formal di negeriku ini.
Musisi.
Aku mendapat pemikiran begini: para musisi itu, entah band atau vokalis, pada akhirnya hanyalah penyedia layanan jasa biasa. Seperti Pak Pos mengirimkan surat, petugas PDAM memeriksa air, musisi-musisi itu tugasnya sekedar menyediakan musik untuk kebutuhan emosionalku.
Amplify my mood. Buat aku terjaga. Percepat denyut nadiku. Sedikit legakan kesedihanku.
Tapi tidak lebih dari itu.

Kurt Cobain. This dumb loser killed himself. Pak tua pendorong gerobak sampah yang tiap pagi berkeliling di kampungku tidak menyerah pada nasib seperti vokalis rendahan ini. Kalau engkau ingin menggemari seseorang, sekali lagi pikirkan, mana yang akan kau pilih?
Jadi dengar ini, kalian para musisi. Mulai hari ini kalian bekerja untukku, bukan sebaliknya aku menyembah-nyembah pada tiap aksimu.
So go and make some good music for me.
Lagu.
Pernah coba bayangkan kalau lagu-lagu cinta yang biasa itu engkau belokkan maknanya menjadi perbincangan si penyanyi dengan Tuhannya?
Sandaran Hati, Letto.
Yakinkah ku berdiri
Di hampa tanpa tepi
Bolehkah aku
Mendengar-Mu?Terkubur dalam emosi
Tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku
Merindukan-MuTerpuruk ku di sini
Teraniaya sepi
Dan ku tahu pasti
Kau menemaniDalam hidupku
KesendiriankuTeringat ku teringat
Pada janji-Mu ‘ku terikat
Hanya sekejap ‘ku berdiri
Kulakukan sepenuh hatiPeduli ‘ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika Kau-lah sandaran hatiKau-lah sandaran hati
Sandaran hatiInikah yang Kau mau?
Benarkah ini jalan-Mu?
Hanyalah Engkau yang kutujuPegang erat tanganku
Bimbing langkah kakiku
Aku hilang arah
Tanpa hadir-MuDalam gelapnya
Malam hariku…
It made perfect sense.